SEKITAR 400 jamaah menghadiri Kajian Ahad Pagi At-Tanwir yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Batang pada Ahad, 26 April 2026. Kegiatan ini berlangsung di Masjid An-Nur RSI PKU Muhammadiyah Kauman Batang sejak pukul 06.00 WIB hingga selesai.
Hadir sebagai penceramah, Ustaz H. Samsul Huda, S.Ag., Ketua MEBP PDM Kabupaten Tegal, yang menyampaikan materi tentang hakikat perjuangan dalam Muhammadiyah serta pentingnya membangun masyarakat Islami yang berkemajuan.

Dalam ceramahnya, Samsul Huda menegaskan bahwa tujuan Muhammadiyah adalah menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Hal ini sejalan dengan Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW.
“Ukuran kesuksesan manusia itu ada dua: kepada Allah taat, dan kepada manusia bermanfaat,” ujarnya di hadapan jamaah.
Ia juga menekankan bahwa peran manusia tidak hanya sebagai hamba Allah, tetapi juga sebagai khalifah di bumi yang bertugas menciptakan kesejahteraan. Karena itu, perjuangan besar tidak bisa dilakukan sendiri, melainkan harus dilakukan secara berjamaah dalam gerakan Muhammadiyah.
Lebih lanjut, ia mengingatkan cita-cita besar umat Islam untuk mewujudkan masyarakat baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surat Saba ayat 15—sebuah negeri yang makmur, penuh keberkahan, dan mendapat ampunan Allah.
Baca juga: Majelis PAUD Dikdasmen PCA Batang Gelar Festival Milad Muhammadiyah ke-113
Kajian Ahad Pagi At-Tanwir PCM Batang Dihadiri Ratusan Jemaah, Kaji Perjuangan Muhammadiyah
Dalam konteks kehidupan berbangsa, Samsul Huda mengulas fenomena negara berdasarkan kekuatan ekonominya. Ia menyoroti bahwa Indonesia termasuk negara dengan sumber daya melimpah, namun belum sepenuhnya menghadirkan kemakmuran bagi seluruh rakyatnya.
“Ini menjadi tugas bersama, bagaimana kekayaan yang ada bisa membawa kesejahteraan,” tegasnya.
Ceramah juga diwarnai dengan berbagai kisah inspiratif, di antaranya perbedaan keteguhan tauhid antara umat Nabi Musa dan Nabi Muhammad, kisah seorang kyai yang kehilangan keikhlasan karena tergoda harta, hingga kisah sahabat Nabi, Julaibib, yang menunjukkan bahwa kemuliaan bukan diukur dari harta atau rupa, melainkan dari ketakwaan dan manfaat bagi sesama.
“Kita harus memilih, mengejar surga atau sekadar harta. Harta tanpa takwa adalah kerugian, sementara sedikit harta dengan takwa adalah keuntungan,” pesannya.
Di akhir kajian, ia menegaskan tiga hal penting yang harus dimiliki setiap kader Muhammadiyah: keikhlasan yang bersumber dari tauhid yang kuat, kebijaksanaan berbasis ilmu, serta kepemimpinan yang meneladani akhlakul karimah.
“Kepemimpinan bukan soal jabatan, tetapi tentang aksi, karya, dan kontribusi nyata. Kemuliaan seseorang diukur dari seberapa besar manfaatnya bagi sesama,” pungkasnya.
Kegiatan ini juga menjadi ajang silaturahim warga Muhammadiyah Batang dan masyarakat umum. Panitia menyediakan konsumsi sederhana berupa nasi megono dan teh panas bagi jamaah, serta mengajak peserta untuk menyiapkan infak terbaik sebagai bagian dari semangat berbagi dan kepedulian sosial.[ind]



