DI tengah perubahan pola makan dan jam istirahat selama Ramadhan, pemilihan minuman bernutrisi menjadi hal yang penting.
Salah satu yang kerap menjadi pilihan masyarakat adalah susu kambing yang dikenal kaya gizi dan relatif mudah dicerna.
Menjalani ibadah puasa bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, melainkan perlu menjaga asupan nutrisi agar tubuh tetap bugar dari sahur hingga waktu berbuka.
Susu kambing sejatinya bukan produk baru dalam tradisi pangan dunia. Hampir tiga perempat populasi global diketahui mengonsumsi susu kambing sebagai bagian dari kebutuhan sehari-hari.
Di banyak negara berkembang, susu kambing menjadi sumber penting kalori, protein, dan lemak, terutama karena kambing lebih mudah dipelihara ketimbang ternak besar lainnya.
Tak sedikit masyarakat yang justru lebih menyukai susu kambing karena teksturnya yang cenderung lebih kental dengan rasa creamy yang khas.
Ditambah kandungan gizinya yang lengkap, susu kambing kerap dipandang sebagai minuman yang lebih ramah bagi tubuh, terutama bagi mereka yang memperhatikan kenyamanan pencernaan selama berpuasa.
Dalam satu gelas atau sekitar 240 mililiter susu kambing utuh, terkandung sekitar 168 kilokalori, 9 gram protein, 10 gram lemak, serta 11 gram karbohidrat yang sebagian besar berasal dari gula alami susu.
Baca juga: Memperbarui Sistem Imun dengan Puasa 3 Hari
Menjelang Ibadah Puasa Pilihan Minuman Bernutrisi jadi Hal yang Penting
Selain itu, susu kambing juga merupakan sumber mineral penting, seperti kalsium, kalium, fosfor, dan magnesium.
Mineral ini berperan dalam menjaga kesehatan tulang, fungsi otot, serta sistem saraf. Susu kambing juga kaya akan vitamin A yang berperan penting dalam menjaga kesehatan mata dan sistem kekebalan tubuh.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa asupan vitamin A yang cukup membantu menurunkan risiko gangguan penglihatan, seperti katarak, serta mendukung daya tahan tubuh anak terhadap berbagai penyakit infeksi, terutama saat pola tidur dan makan berubah selama Ramadhan.
Keunggulan lain susu kambing terletak pada kemudahan dicerna. Struktur protein dan lemak dalam susu kambing dinilai lebih mudah diurai oleh sistem pencernaan sehingga tubuh dapat memanfaatkan nutrisinya secara lebih efisien.
Kandungan proteinnya pun tercatat lebih tinggi dibanding beberapa jenis susu nabati, seperti susu almond atau susu beras.
Sebagian orang yang alergi terhadap susu sapi juga melaporkan tidak mengalami reaksi serupa saat mengonsumsi susu kambing.
Bahkan, sebuah studi menyebutkan bahwa sekitar satu dari empat bayi yang alergi terhadap susu sapi ternyata tidak menunjukkan reaksi alergi terhadap susu kambing.
Meski demikian, bagi individu dengan riwayat alergi susu, konsultasi dengan tenaga medis tetap disarankan sebelum mengonsumsinya secara rutin.
Beberapa penelitian juga mencatat potensi susu kambing dalam membantu pengelolaan kadar kolesterol. Konsumsi susu kambing dinilai dapat membantu mengurangi penumpukan kolesterol di pembuluh darah dan kantong empedu, terutama pada individu dengan kadar kolesterol tinggi, sebagai bagian dari pola makan seimbang.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Dengan beragam manfaat tersebut, tak mengherankan jika minat masyarakat terhadap susu kambing cenderung meningkat selama bulan puasa.
Pada 2025, misalnya, permintaan susu kambing Saanen dilaporkan melonjak hingga sekitar 50 persen selama bulan puasa.
Peningkatan ini mencerminkan semakin banyaknya masyarakat yang menjadikan susu kambing sebagai bagian dari menu sahur maupun berbuka untuk menjaga stamina dan kebugaran tubuh.
Seiring peningkatan minat tersebut, produk olahan susu kambing kini hadir dalam berbagai formulasi yang lebih praktis dan sesuai dengan kebutuhan konsumen modern.
Salah satunya adalah susu kambing Etawa yang dikembangkan menjadi produk siap konsumsi, seperti Etawaku Platinum.
Susu kambing Etawa dikenal memiliki profil nutrisi yang lengkap. Dalam Etawaku Platinum, misalnya, kandungan susu kambing Etawa diolah dari bahan premium dengan kadar gula dan lemak yang relatif rendah. [Din]





