SAAT gunung berapi erupsi, abu vulkanik yang beterbangan di udara bukan cuma mengganggu pernapasan, tapi juga bisa jadi ancaman serius buat mata.
Salah satunya seperti dialami pemilik akun TikTok @khatrinsucisaraswati. Dalam unggahan video TikToknya, Kathrin menunjukkan sklera (bagian putih mata) mengalami perdarahan akibat abu vulkanik.
Dalam dunia medis, kondisi ini disebut perdarahan subkonjungtiva, yakni kondisi ketika pembuluh darah kecil di bawah permukaan selaput jernih mata (konjungtiva) pecah, sehingga darah terjebak di atas bagian putih mata (sklera).
Penjelasan soal kenapa abu vulkanik bisa sampai melukai mata seperti itu disampaikan dr. Ayman Alatas lewat kontennya di TikTok.
Baca juga: Menkes Waspadai Gangguan Kesehatan yang Terdampak Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau
Abu Vulkanik Bukan Hanya Mengganggu Pernapasan, Tapi Jadi Ancaman juga Bagi Mata
Ia menjelaskan bahwa abu vulkanik mengandung partikel halus seperti kaca dan batuan mineral yang sifatnya keras, sehingga ketika mengenai mata, reaksi mengucek yang biasanya spontan dilakukan orang justru berisiko.
Meski begitu, dr. Ayman memahami refleks mengucek mata memang sulit dihindari. Sebagai gantinya, ia menyarankan langkah sederhana: bilas mata dengan air mengalir begitu abu vulkanik masuk ke mata.
Alternatif lain, kata dia, adalah mencelupkan wajah ke wadah berisi air lalu mengedipkan mata di dalamnya agar partikel abu terangkat.
Untuk pengguna lensa kontak, dr. Ayman punya saran khusus: bilas mata dengan air mengalir dulu sebelum melepas lensa.
Jika iritasi sudah terlanjur terjadi, seperti kasus perdarahan subkonjungtiva yang dialami Kathrin, ia menyarankan segera berkonsultasi ke dokter mata agar mendapat penanganan yang tepat.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Penjelasan dr. Ayman ini sejalan dengan riset ilmiah soal dampak abu vulkanik pada mata. Menurut IVHHN (International Volcanic Health Hazard Network), lembaga internasional yang mengoordinasikan riset dampak kesehatan letusan gunung berapi, iritasi mata adalah salah satu efek kesehatan paling umum akibat abu vulkanik.
Butiran halus dalam abu bisa menyebabkan luka gores menyakitkan di permukaan depan mata (abrasi kornea) dan konjungtivitis.
Gejalanya meliputi rasa seperti ada benda asing di mata, mata terasa nyeri, gatal, atau merah, keluarnya cairan lengket atau air mata berlebih, hingga lecet pada kornea.
Kasus nyata soal ini tercatat sejak lama. Salah satu laporan tertua berasal dari letusan Gunung Irazú di Kosta Rika pada 1963, di mana warga di sekitarnya mengalami iritasi tenggorokan dan mata, termasuk mata merah, sensasi terbakar, dan nyeri akibat partikel abu yang masuk ke kantung konjungtiva.
Kasus yang lebih besar tercatat usai letusan Gunung St. Helens di Amerika Serikat pada 1980: dari 1.523 pasien yang disurvei oleh 322 dokter mata, sebagian besar (80,7 persen) mengalami sensasi ada benda asing di mata, hampir separuhnya (49,4 persen) mengalami konjungtivitis, dan hampir 20 persen di antaranya butuh tindakan pengangkatan benda asing dari mata. [Din]





