KELUARGA merupakan unit terkecil sekaligus pondasi utama dalam sistem sosial masyarakat di kawasan Asia Pasifik. Menguatkan keluarga memiliki makna yang sangat penting karena keluarga yang kuat melahirkan individu-individu yang berkarakter, masyarakat yang kohesif, negara yang kokoh dan pada akhirnya, berkontribusi pada pembentukan kawasan yang berketahanan, maju dan berperadaban.
Dimensi nilai keagamaan menjadi kekhasan kawasan Asia Pasifik yang tidak dapat diabaikan. Di kawasan yang kaya tradisi ini, agama tumbuh dengan damai dan berdampingan. Ada Islam, Kristen, Hindu, Buddha, hingga Konfusianisme. Nilai-nilai keagamaan yang dipahami secara mendalam, terbukti menjadi perekat ketahanan keluarga, sumber kekuatan moral perempuan, dan benteng dari arus destruktif modernisasi.
Perempuan yang memiliki pemahaman agama yang kokoh mampu menjalankan perannya sebagai pendidik pertama generasi dengan landasan nilai yang kuat dan karakter kesalehan sosial yang memberi warna pada seluruh anggota keluarga.
Pergeseran nilai moral, budaya, dan sosial di masyarakat menjadi ancaman internal terbesar bagi ketahanan keluarga. Kebijakan publik yang kurang berpihak pada kesejahteraan keluarga juga dapat memperlemah struktur domestik secara perlahan.
Pusat Belajar Keluarga Madani (PBKM) menyadari tantangan global yang dapat menyebabkan pergeseran nilai, mempengaruhi kebijakan dan lemahnya kolaborasi yang dapat melemahkan ikatan keluarga, menyelenggarakan Konferensi tingkat Asia Pasifik di Jakarta, Sabtu 12/09/26, dengan tema, “Resiliensi Keluarga dan Kemajuan Negara-Negara Sekawasan: Menguatkan Peran dan Kepemimpinan Perempuan di Asia Pasifik”
Di Konferensi ini terbagi menjadi beberapa pokok bahasan, dibuat paralel dalam delapan komisi. Dalam salah satu komisi, membahas terkait Nilai, Kebijakan dan Kolaborasi untuk Penguatan Keluarga. Dalam diskusi panel yang dimoderatori oleh Dr Astriana Baiti Sinaga menghadirkan narasumber, Prof. Dr. Ir. Luluk Setyaningsih, S.Hut., M.Si. dan Prof. Dr. Heru Susetyo, S.H., LL.M., M.Si., M.Ag., Ph.D.
Di hadapan peserta yang berasal dari beberapa negara, Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapore, Prof Luluk menyampaikan, “Isu ketahanan keluarga, fakta terkait isu ekonomi, sosial, tingginya angka perceraian, sehingga ada perubahan struktur keluarga. Dan dominasi cerai gugat lebih mendominasi dibanding cerai talak.”
“Hal yang memprihatinkan, permasalahan mental 1 dari 3 orang dan ini terjadi di sekolah Islam,” lanjutnya.
Prof Heru memaparkan, “Fenomena keluarga modern kontemporer, ada perubahan secara peran dan fungsi. Pernikahan dilihat sebagai pilihan. Ikatannya lebih mudah terurai. Fenomena lain juga, anak sekarang mencari ketenangan dengan cara sendiri, bukan dari keluarga dan nilai-nilai agama yang dianutnya.”
Salah satu peserta menyampaikan, “Permasalahan di sekolah atau pesantren, sering diselesaikan dengan pendekatan agama, padahal perlu juga melalui pendekatan psikologis.”
Hasil yang diharapkan dari konferensi ini, mengintegrasikan nilai keagamaan yang moderat sebagai pondasi optimalnya peran perempuan yang bermartabat dalam keluarga dan ruang publik, baik di lembaga formal maupun non formal.
Perlu ada kolaborasi yang baik dari berbagai lembaga baik pemerintah pusat, komunitas tingkat nasional, pemerintah daerah, komunitas lokal, swasta, dunia usaha. Kolaborasi pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat sejak perencanaan. [Mh/PBKM]


