ADA kisah yang begitu sederhana, tetapi meninggalkan renungan mendalam tentang menjadi orang tua.
Seorang ibu yang bekerja sebagai petugas kebersihan sekaligus membesarkan anaknya seorang diri mendadak tidak masuk kerja. Keesokan harinya ia datang dengan mata sembab. Ia baru saja melewati hari yang paling berat dalam hidupnya. Anak yang ia sayangi pingsan di sekolah, mengalami kejang berulang, dan tubuhnya dipenuhi luka. Penyebabnya bukan kecelakaan, melainkan pukulan yang ia lakukan sendiri saat dikuasai amarah sehari sebelumnya.
Baca Juga: Kedudukan Hamba yang Jujur di Sisi Allah
Saat Amarah Orang Tua Menjadi Luka Bagi Anak
Dengan penuh penyesalan ia berkata, “Saya baru sadar, kemarahan sesaat saya ternyata berdampak sepanjang ini.”
Kisah itu mengingatkan kita bahwa kemarahan mungkin hanya berlangsung beberapa menit, tetapi dampaknya dapat tinggal lama di hati seorang anak. Luka di kulit bisa sembuh, namun rasa takut, kecewa, dan hilangnya rasa aman sering kali membutuhkan waktu jauh lebih panjang untuk dipulihkan.
Setiap orang tua pasti pernah merasa lelah. Tekanan pekerjaan, persoalan ekonomi, kurang istirahat, hingga berbagai masalah rumah tangga dapat membuat emosi menjadi rapuh. Dalam keadaan seperti itu, seseorang mudah bereaksi tanpa berpikir jernih. Sayangnya, orang yang paling sering menerima luapan emosi justru mereka yang paling kita cintai: anak-anak.
Islam tidak melarang manusia merasakan marah. Rasulullah SAW justru mengajarkan bagaimana mengendalikan amarah agar tidak berubah menjadi perbuatan yang menyakiti orang lain. Beliau menganjurkan membaca ta’awudz, berwudhu, mengubah posisi tubuh dari berdiri menjadi duduk, lalu berbaring apabila emosi belum juga reda.
Mendisiplinkan anak memang penting, tetapi disiplin tidak sama dengan kekerasan. Ketegasan dapat dilakukan melalui aturan yang konsisten, komunikasi yang baik, dan konsekuensi yang mendidik, bukan dengan bentakan atau pukulan. Anak belajar bukan hanya dari nasihat yang kita ucapkan, melainkan juga dari cara kita memperlakukan mereka saat menghadapi kesalahan.
Ketika amarah mulai memuncak, berhentilah sejenak. Ambil jarak, tenangkan napas, dan jangan biarkan tangan atau lisan melukai hati anak. Jeda beberapa menit sering kali mampu mencegah penyesalan yang bertahan bertahun-tahun.
Dan jika kita pernah khilaf, jangan merasa harga diri akan jatuh karena meminta maaf. Datangi anak, peluk dengan tulus, tatap matanya, lalu katakan, “Maafkan Ayah atau Ibu. Tadi kami salah.” Permintaan maaf tidak mengurangi wibawa orang tua, justru mengajarkan bahwa keberanian mengakui kesalahan adalah akhlak yang mulia.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Semoga setiap rumah dipenuhi kasih sayang, sehingga amarah tidak pernah menjadi bahasa yang diwariskan kepada anak-anak. [DW]
Sumber: Ustadzah Eko Yuliarti





