SEMBILAN anak yatim Gaza bertemu dengan orang tua asuh mereka di Indonesia melalui layar Zoom, dalam sesi “Menyapa Anak Asuh” yang dilaksanakan 3 bulan sekali. SMART 171, NGO yang memfasilitasi agenda ini juga menghadirkan penerjemah Arab-Indonesia agar orang tua asuh bisa langsung tanya-jawab kepada anak-anaknya. Di balik sinyal yang berkali-kali terputus, cerita anak-anak ini tetap tersampaikan.
Khalid Asraf, 9 tahun, kelas 4 SD, membuka sesi dengan kisahnya. Setiap pagi, ia bangun bukan untuk sekolah, melainkan untuk mengantri air.
“Berdiri berjam-jam, belum tentu mendapatkan air,” katanya. Saat ditanya soal cita-cita, Khalid ingin menjadi teknisi listrik. Bisa tebak mengapa? Khalid bilang “Untuk menyalakan lampu negaraku.”
Ada pula Harits Muhammad Najjar. Bocah 12 tahun yang sudah 12 kali berpindah tempat tinggal sejak Israel menggenosida Gaza 7 Oktober 2023 silam. Bayangkan, dua tahun sudah 12 kali pindah. Dan setiap kali pindah, ia membantu ibunya membongkar dan mendirikan ulang tenda.
Baca juga: SMART171 Salurkan 4.750 Paket Ifthar ke Palestina Sepanjang Ramadan
Hidup dalam situasi Gaza yang tak kondusif dan susah bersekolah tetap membuat Harits bersemangat kala menceritakan cita-citanya. Ia bercerita ingin jadi dokter sebelum genosida.
Setelah menyaksikan Gaza hancur lebur, ia mengubah cita-citanya, “Saya ingin jadi insinyur untuk membangun kembali rumah-rumah di Gaza. Harits juga bercita-cita menjadi imam masjid. Suara azannya yang merdu dalam acara itu membuat peserta terdiam.
Menyapa Anak Asuh SMART 171, Ada yang Sudah Pindah 12 Kali!
Asim Ahmad Barakah baru berusia 10 tahun saat genosida mulai. Ada orang tua asuhnya, Pak Bukhori Ahmad yang hadir dan bertanya langsung pada Asim menggunakan bahasa arab, “Bagaimana kalian bisa terus menghafalkan quran di sana?”
Asim menjawab bahwa mereka menghafalkan Qruan dalam tenda-tenda yang difungsikan seperti masjid, sebab masjid sungguhan seringkali dijadikan target drone oleh tentara Israel. Asim menghafal bersama teman-teman, berpacu satu sama lain. Biasanya ada target hafalan.
Asim kini berusia 12 tahun dan tetap bersekolah meski hanya menggunakan tenda. Ia setenda dengan 45 siswa lain, duduk di lantai tanpa meja. Ketika ditanya soal kesulitan belajar, Asim menjawab singkat, “Tidak apa-apa, kami bisa menahannya.” Benar-benar wujud ketegaran orang Palestina. Dalam acara itu, Asim menyanyikan nasyid yang ia persembahkan untuk almarhum ayahnya.
Lain lagi Jud, gadis kelas 6 SD yang sudah 4 kali berpindah tenda. Jud menderita sakit sejak lahir, ada lubang di perutnya yang membutuhkan operasi. Ketika ditanya hadiah apa yang paling ia inginkan, jawabannya bukan mainan atau pakaian, tapi kawat gigi dan biaya operasi perut. Orang tua asuhnya, Pak Onrizal dan Bu Chika, hadir dalam sesi dan menyapanya langsung.
Balsam, 12 tahun, adalah anak tunggal yang tinggal hanya berdua dengan ibunya. Sudah tujuh kali berpindah. Tantangan terbesar di tenda bukan hujan atau panas, melainkan hewan: kutu, nyamuk, dan tikus yang menyerang di malam hari, makin parah memasuki musim panas.
Nada Ibrahim Awad, 14 tahun, menyimpan beban yang berbeda. Ayahnya syahid, ibunya menikah lagi. Kini ia tinggal di tenda bersama nenek yang menderita diabetes dan hipertensi. Nada sudah 6 kali pindah. Hafalan Al-Qurannya sempat terhenti karena genosida. Ia berharap bisa kembali menekuni hobinya berenang, suatu hari nanti, di Palestina yang merdeka.
Ilham, 12 tahun, menutup sesi dengan membacakan puisi berjudul “Ana Palestin”. Lain lagi Nur, gadis kecil berusia 8 tahun ini suka menggambar dan menunjukkan gambar kakbah hasil karyanya. Ada Bu Saniy, orang tua asuh yang menyapa dan mendoakannya langsung.
Dari sisi logistik, koordinator di Gaza, Basil, mengungkapkan bahwa satu unit tenda layak huni termasuk panel surya kecil dan sanitasi dasar, membutuhkan biaya sekitar 2.000 dolar AS. Tanah tempat tenda berdiri pun harus disewa, dengan harga bervariasi tergantung tingkat keamanan lokasi. Semakin jauh dari titik rawan pengeboman, semakin mahal sewanya.
Penerjemah acara, Ikhlas, menutup dengan kalimat meneguhkan, “Apa yang kita berikan kepada mereka bukan hanya kasih sayang, tapi investasi yang tak akan sia-sia.”
Acara ditutup dengan doa bersama dan tangkapan layar foto bersama seluruh anak-anak Gaza yang masih tersambung.[ind]





