DOMPET melawan senjata penjajah; antara Boikot, Ramadan, dan Solidaritas Perempuan untuk Palestina.
oleh: Maimon Herawati (Founder SMART171)
Di abad ke-21, penjajahan tidak lagi berdiri semata di atas laras senjata. Ia beroperasi melalui jaringan yang jauh lebih halus dan kompleks: ekonomi global, lobi politik, kontrol narasi media, dan kompromi moral elite internasional.
Pendudukan Israel atas Palestina bertahan bukan hanya karena kekuatan militernya, tetapi karena ditopang oleh gurita kekuasaan global yang memastikan aliran uang, legitimasi politik, dan pembenaran publik tetap mengalir.
Kekuasaan ini dibangun oleh jaringan lobi politik seperti AIPAC, yang secara agresif mempengaruhi kebijakan luar negeri, anggaran militer, dan sikap parlemen di negara-negara Barat. Israel juga didukung pemerasan dan kompromi elite seperti yang dilakukan Epstein, di mana skandal pribadi, relasi kuasa, dan kepentingan tersembunyi menjadi alat kontrol terhadap politisi dan pengambil kebijakan.
Dalam ranah pertarungan narasi, pengaruh hasbara Israel di media arus utama menempatkan penjajah dan korban pada posisi setara, atau bahkan membalikkan peran pelaku dan korban.
Media arus utama Indonesia, berdasarkan riset terkait berita Tufanul Aqsha juga menunjukkan indikasi ke arah hal ini.
Dalam sistem seperti ini, kejahatan kemanusiaan bisa terus berlangsung sambil disiarkan sebagai “konflik”, “pembelaan diri”, atau sekadar angka statistik.
Pertanyaannya kemudian: apa yang bisa dilakukan masyarakat sipil biasa, yang tidak memiliki senjata, kekuasaan, atau akses ke meja diplomasi?
Salah satu jawabannya adalah BDS (Boycott, Divestment, Sanctions), strategi perlawanan non-kekerasan yang justru menarget jantung paling sensitif dari kekuasaan kolonial: ekonomi dan legitimasi moral. Ini karena Israel bukan entitas yang berdiri sendiri.
BDS hadir dengan logika sederhana namun sangat berbahaya bagi rezim kolonial. Jika pendudukan menguntungkan secara ekonomi, maka ia bisa dilemahkan secara ekonomi. Ini karena BDS bekerja melalui tiga jalur utama yaitu memboikot produk, merek, dan institusi yang terlibat atau diuntungkan oleh penjajahan. Menekan lembaga untuk melakukan divestasi, keluar dari dunia bisnis Israel. Gerakan ini juga melakukan penekanan melalui sanksi moral dan politik.
Yang membuat BDS begitu ditakuti adalah sifatnya yang desentralistik. Ia tidak membutuhkan pemimpin tunggal, tidak bisa dibombardir, dan tidak bisa dibungkam dengan kekerasan. Setiap individu, dengan keputusan konsumsi sehari-hari, dapat menjadi bagian dari tekanan global.
Strategi BDS ini pernah berhasil. Apartheid Afrika Selatan runtuh bukan hanya karena perjuangan internal, tetapi karena tekanan internasional yang masif melalui boikot ekonomi dan budaya, divestasi global, dan isolasi moral yang membuat rezim apartheid kehilangan legitimasi. Tekanan ini membuat apartheid menjadi mahal secara ekonomi, beracun secara politik, dan mustahil dipertahankan secara moral.
Pola yang sama ini sedang ditujukan pada Israel oleh aktivis dunia. Dan Indonesia sebagai negara Muslim terbanyak di dunia akan bisa berkontribusi secara masif pada BDS selama Ramadan yang akan datang.
Baca juga: SMART171 Salurkan 4.750 Paket Ifthar ke Palestina Sepanjang Ramadan
Dompet Melawan Senjata Penjajah
Ramadan kali ini menjadi momen refleksi, ke mana uang kita mengalir. Bumbu dapur produksi siapa yang kita beli? Kita, perempuan pemegang kekuasaan ekonomi mikro yang dampaknya bisa makro. Setiap keputusan belanja adalah keputusan politik, meski sering tidak kita sadari.
Ketika kita memilih batik Cirebon ketimbang dress Zara, korporasi yang terafiliasi dengan penjajahan, kita sedang menjalankan perlawanan.
Pada saat seluruh entitas ekonomi pro zionis ditinggalkan, maka kekuatan utama penopang gerakan mereka, kekayaan yang berlimpah, menjadi kering dan lemah. Ketika secara akademik, budaya, olahraga entitas zionis diisolasi, mereka akan menemui jalan buntu sehingga tidak ada jalan keluar melainkan meruntuhkan sistem apartheid itu.
Israel mungkin memiliki senjata, lobi, dan dukungan elite global. Namun masyarakat dunia memiliki satu kekuatan yang tidak bisa sepenuhnya dikendalikan: pilihan konsumsi.
Di bulan Ramadan, umat Islam dilatih untuk mengendalikan diri setiap hari. Ketika latihan itu diterjemahkan menjadi kesadaran ekonomi, puasa berubah menjadi perlawanan non-kekerasan yang berkelanjutan. Dalam dunia yang dikendalikan uang, dompet yang sadar adalah senjata paling damai dan paling ditakuti.
Mari kita semua menjadi kekuatan yang paling ditakuti itu.[ind]





