PERNAHKAH kita merasa kehidupan orang lain terlihat jauh lebih beruntung? Ada teman yang kariernya berkembang pesat. Ada saudara yang sudah memiliki rumah sendiri. Sementara itu kita masih berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tanpa disadari perbandingan tersebut terkadang membuat hati gelisah dan mempertanyakan mengapa rezeki yang diterima terasa belum cukup.
Perasaan seperti itu manusiawi. Namun kita perlu berhati-hati agar tidak terjebak dalam rasa iri dan menganggap Allah memberikan bagian yang lebih baik kepada orang lain. Setiap manusia memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Ada yang diberi kelapangan harta tetapi diuji dengan kesehatan. Ada pula yang hidup sederhana tetapi memiliki keluarga yang harmonis dan hati yang tenang.
Sebagai seorang Muslim kita perlu meyakini bahwa rezeki telah diatur oleh Allah SWT. Tugas manusia bukan sibuk membandingkan pemberian-Nya melainkan terus berusaha dengan cara yang benar dan mensyukuri setiap nikmat yang diterima.
Baca Juga: Benarkah Stevia Bermanfaat untuk Menjaga Kesehatan Tubuh?
Mengapa Kita Tidak Perlu Iri dengan Rezeki Orang Lain? Ini Cara Belajar Bersyukur
1. Setiap Orang Memiliki Takaran Rezeki Berbeda
Allah SWT menciptakan manusia dengan keadaan dan perjalanan hidup yang tidak sama. Ada yang mendapatkan rezeki dalam bentuk kekayaan. Ada yang dianugerahi kesehatan dan keluarga yang mendukung. Ada pula yang memperoleh kebahagiaan melalui kesempatan beribadah dan kehidupan yang sederhana.
Dalam Surah Asy-Syura ayat 27 dijelaskan bahwa Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasinya sesuai kehendak-Nya. Jika seluruh manusia diberikan rezeki secara berlebihan tentu dapat menimbulkan kerusakan di bumi.
Ayat tersebut mengajarkan bahwa banyaknya harta bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Kita tidak perlu merasa gagal hanya karena pencapaian hidup belum sama dengan orang lain.
Setiap orang memiliki waktu dan ujian masing-masing. Bisa jadi sesuatu yang kita inginkan belum diberikan karena ada hikmah yang belum kita pahami.
2. Jangan Sibuk Membandingkan Kehidupan dengan Orang Lain
Media sosial sering membuat seseorang mudah membandingkan kehidupannya dengan orang lain. Kita melihat teman berlibur ke luar negeri. Ada yang membeli kendaraan baru atau membangun rumah impian. Sementara itu kehidupan sendiri terasa berjalan di tempat.
Padahal apa yang ditampilkan di media sosial hanya sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Kita tidak selalu mengetahui perjuangan dan kesulitan yang mereka hadapi di balik pencapaian tersebut.
Terlalu sering membandingkan diri dapat membuat seseorang lupa menikmati nikmat yang sudah dimiliki. Waktu dan energi yang seharusnya digunakan untuk memperbaiki kehidupan justru habis untuk memikirkan keberhasilan orang lain.
Cobalah mengalihkan perhatian pada perkembangan diri sendiri. Hargai setiap kemajuan meskipun terlihat kecil. Selama ada usaha untuk menjadi lebih baik maka perjalanan tersebut tetap memiliki arti.
3. Terus Berusaha dan Jangan Hanya Berdiam Diri
Mempercayai ketetapan Allah bukan berarti manusia boleh berhenti berusaha. Islam mengajarkan umatnya untuk bekerja dan mencari rezeki melalui jalan yang baik.
Dalam Surah An-Najm ayat 39 Allah SWT menjelaskan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.
Ayat ini menjadi pengingat bahwa ikhtiar merupakan bagian penting dalam kehidupan. Jika menginginkan pekerjaan yang lebih baik maka tingkatkan kemampuan diri. Jika ingin memiliki usaha sendiri maka mulailah belajar dan menyusun perencanaan.
Jangan mudah menyerah ketika hasil belum sesuai harapan. Rezeki terkadang datang melalui jalan yang tidak pernah kita bayangkan. Hal terpenting adalah tetap berusaha tanpa melupakan kewajiban kepada Allah.
4. Pastikan Rezeki Diperoleh dengan Cara Halal
Dalam mencari rezeki kita tidak hanya perlu memperhatikan jumlah yang diperoleh tetapi juga cara mendapatkannya. Harta yang banyak tidak akan membawa keberkahan apabila diperoleh melalui jalan yang dilarang Allah.
Hindari kebiasaan menipu dan mengambil hak orang lain. Jangan pula menghalalkan segala cara hanya karena ingin memiliki kehidupan seperti orang lain.
Rezeki yang halal mungkin tidak selalu terlihat besar. Namun ketenangan hati ketika menggunakannya merupakan nikmat yang tidak ternilai.
Biasakan mencari penghasilan melalui pekerjaan yang jujur dan bertanggung jawab. Jika memiliki usaha maka penuhi hak pelanggan dan pekerja. Jika bekerja sebagai karyawan maka tunaikan tugas dengan amanah.
5. Belajar Bersyukur atas Nikmat yang Sudah Dimiliki
Terkadang kita terlalu fokus memikirkan sesuatu yang belum dimiliki sampai lupa menghitung nikmat yang telah diberikan Allah.
Masih bisa bernapas dengan baik dan menikmati makanan serta berkumpul bersama keluarga merupakan bentuk rezeki. Kesempatan untuk beribadah dan memperbaiki diri juga termasuk karunia yang patut disyukuri.
Allah SWT berfirman dalam Surah Ibrahim ayat 7 bahwa apabila hamba-Nya bersyukur maka Allah akan menambah nikmat kepadanya.
Bersyukur bukan berarti berhenti memiliki cita-cita. Kita tetap boleh menginginkan kehidupan yang lebih baik. Namun jangan sampai keinginan tersebut membuat kita meremehkan pemberian Allah.
6. Percayalah bahwa Rezeki Tidak Selalu Berbentuk Uang
Rezeki sering kali hanya dipahami sebagai gaji dan kekayaan. Padahal maknanya jauh lebih luas. Kesehatan yang terjaga dan keluarga yang menyayangi serta teman yang membawa pengaruh baik juga merupakan bentuk rezeki.
Bahkan kesempatan untuk bertaubat setelah melakukan kesalahan merupakan nikmat yang sangat berharga.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Karena itu jangan pernah merasa rezeki tertukar dengan orang lain. Bagian setiap manusia memiliki ketentuan dan hikmahnya masing-masing. Teruslah berusaha dengan sungguh-sungguh serta jaga kehalalan penghasilan dan perbanyak rasa syukur.
Semoga Allah memberikan rezeki yang halal dan berkah serta menjadikan hati kita senantiasa merasa cukup atas segala ketetapan-Nya. Aamiin. [DW]
Sumber: Ustadzah Halimah Alaydrus



