KONSER Andrea Bocelli ternyata berjalan lancar, di Magelang pada Sabtu malam (31/10). Ribuan pengunjung dikabarkan terbuai dalam genre musik klasik, opera, dengan suara khas tradisional Italia itu.
Selain di Magelang, rencananya konser yang didukung sejumlah kementerian itu juga akan digelar di Jakarta pada 3 Nopember mendatang.
SIapa Bocelli
Andrea Bocelli lahir di Italia pada tahun 1958. Sejak usia 12 tahun, Bocelli mengalami kebutaan. Meski begitu, ia tetap beraktivitas termasuk kuliah di fakultas hukum. Setelah lulus, ia berprofesi sebagai pengacara.
Namun pada tahun 1993, Bocelli terjun ke dunia musik karena hobi dan bakatnya. Albumnya dikabarkan laris terjual.
Namanya kian ngetop setelah berduet dengan sejumlah artis beken, seperti Ed Shreen, Sarah Brightman, dan Celine Dion.
Dukungan terhadap Israel dan IDF
Kalau soal konser dan lawatan musisi ke tanah air, rasanya organisasi ulama seperti MUI tak akan bereaksi keras. Bukan hanya MUI, mayoritas ormas Islam pun akan memberikan reaksi yang sama.
Namun, kenapa reaksi yang muncul begitu keras terhadap Bocelli?
Hal ini karena Bocelli dinilai sebagai bagian dari kampanye untuk ‘perjuangan’ Israel, khususnya IDF atau organisasi militernya.
Konser pada tahun 2010 di Los Angeles, AS, menjadi bukti dukungan fanatik itu. Ia menjadi bagian pengisi konser yang dikhususkan untuk mendukung militer Israel atau IDF.
Sepertinya sudah menjadi rahasia umum kalau AS merupakan Israel dalam bentuk maksi, dan Israel merupakan AS dalam bentuk mini. Keduanya nyaris tak bisa dipisahkan.
Hingga tahun-tahun belakangan ini, Bocelli begitu fanatik dan setia memberikan dukungan kepada Trump dalam personal artis musik. Padahal, para artis lainnya justru meninggalkan Trump karena paranoidnya terhadap perang.
Yang paling mencolok adalah konser Bocelli pada tahun 2022 di Tel Aviv, Israel. Bocelli tampil di konser yang juga dihadiri Netanyahu.
Rasanya sulit memisahkan konser Bocelli dengan dukungannya terhadap ‘perjuangan’ Israel.
Test The Water Dunia Islam
Lawatan konser Bocelli sebenarnya tidak hanya di Indonesia yang merupakan muslim terbesar di dunia. Tapi juga di dunia Islam lainnya seperti Yordania.
Penolakan juga terjadi di negeri para Nabi ini. Sejumlah aktivis Islam menyerukan boikot.
Kenapa harus di Yordania? Yordania itu negeri tetangga Palestina yang kini tanahnya dirampas Israel. Pada gelaran Sidang Umum PBB September lalu, raja Abdullah memberikan penentangan yang lumayan keras terhadap Israel.
Menurutnya, yang diincar Israel itu bukan hanya Palestina, tapi juga negeri-negeri muslim lainnya.
Boleh jadi, ini suara batin Raja Abdullah yang khawatir kalau sewaktu-waktu negerinya juga dicaplok Israel seperti yang terjadi terhadap Palestina.
Nah, lawatan Bocelli ke Yordania boleh jadi untuk memastikan seperti apa posisi Yordania terhadap Israel saat ini.
Bagaimana dengan Indonesia?
Sejumlah peristiwa terakhir boleh jadi menunjukkan ‘ambigu’ politik Indonesia terhadap Israel dan Palestina. Di satu sisi, Indonesia seperti mendukung kemerdekaan Palestina, tapi di sisi lain ikut berpartisipasi dalam BoP bentukan Trump yang pro Israel.
Tidak tertutup kemungkinan, lawatan Bocelli menjadi bagian dari ‘tes the water’ itu. Apakah rakyat Indonesia santai-santai saja dengan Israel, atau memang gigih berjuang untuk Palestina?
Nah, jawabannya mungkin bisa dilihat dari lancar atau tidaknya konser Bocelli. Konsernya dilakukan di dua tempat: di Magelang dan Jakarta. Di Magelang sudah berjalan sukses, entah seperti apa nantinya di Jakarta.
Kalau selama ini demo-demo besar ormas Islam memberikan dukungan yang begitu lantang untuk Rakyat Palestina, boikot Israel, dan lainnya; kini, yang diboikot itu justru datang menyanyikan sejumlah lagu untuk rakyat Indonesia: Romanza 30th Anniversary World Tour. [Mh]


