KEJUJURAN membawa berkah. Rezeki akan datang dari yang tidak disangka.
Pada tahun 431 hijriah, ada seorang ulama bernama Abul Wafa Ali bin Aqil bin Muhammad Al-Bagdadi. Ia dikenal dengan nama Ibnu Aqil.
Bisa dibilang, Ibnu Aqil tergolong ulama yang serba bisa. Ia menguasai sejarah, ilmu hadis, tafsir, dan fikih. Ulama bermazhab Hambali ini wafat di usia 82 tahun.
Semasa muda, Ibnu Aqil begitu gemar menempuh perjalanan jauh demi menimba ilmu. Ia pernah ke Baitul Maqdis atau Palestina, ke Aleppo Suriah, dan balik ke kampung halaman di Bagdad, Irak. Masih banyak tempat lain yang ia kunjungi demi ilmu.
Ketika masih muda, Ibnu Aqil pernah mengalami hal unik saat menunaikan ibadah haji. Ia menemukan kalung berlian dengan tali berwarna merah. Kalung itu ia simpan hingga ada seseorang yang mengumumkan telah kehilangan barang.
Benar saja. Ada kabar bahwa seseorang mengumumkan telah kehilangan kalung dengan ciri seperti itu. Orang itu bahkan menjanjikan ratusan dinar untuk mereka yang mau mengembalikan kalung. Mungkin karena kalung itu begitu berharga dan memiliki nilai tersendiri.
Ibnu Aqil menemui orang itu. Ia mengembalikan kalung seperti yang dicirikan. Sesuai dengan janji, orang itu memberikan hadiah ratusan dinar ke Ibnu Aqil. Tapi, uang itu ia tolak.
Dari haji itu, Ibnu Aqil pergi ke Baitul Maqdis, kemudian ke Aleppo Suriah. Di Aleppo, Ibnu Aqil singgah di sebuah masjid. Karena imam tetap masjid itu baru saja wafat, Ibnu Aqil didaulat menjadi imam.
Rupanya jamaah di sekitar masjid itu begitu jatuh hati dengan Ibnu Aqil. Mereka begitu terkesan. Mereka pun ‘merekayasa’ agar Ibnu Aqil bisa menetap di sekitar situ agar bisa terus menjadi imam shalat.
Caranya, mereka menjodohkan putri sang imam yang wafat dengan Ibnu Aqil. Singkat cerita, pernikahan sederhana pun berlangsung lancar. Ibnu Aqil akhirnya menetap di sana.
Namun, suatu kali, Ibnu Aqil terkejut ketika mendapati istrinya mengenakan kalung yang seperti sangat ia kenal: kalung berlian dengan tali berwarna merah.
“Aku punya cerita tersendiri dengan kalung seperti ini,” ungkap Ibnu Aqil ke istrinya.
Ibnu Aqil pun menceritakan pengalaman lamanya saat menunaikan ibadah haji.
Tiba-tiba, istrinya menangis haru. Ia menceritakan kalau kalung yang ia kenakan itu memang pernah hilang saat bersama ayahandanya pergi menunaikan ibadah haji. Sebegitu inginnya kalung itu kembali, ayahandanya menjanjikan ratusan dinar untuk siapa yang mau mengembalikan.
Ternyata, orang yang menemukan itu tak mau diberikan hadiah. Ayahandanya begitu takjub. Ia pun berdoa kepada Allah, semoga putrinya mendapatkan jodoh dengan anak muda seperti itu.
“Rupanya, Allah mengabulkan doa ayandanda,” ucap istri Ibnu Aqil.
Padahal, jarak antara kampung Ibnu Aqil di Bagdad dengan rumah si pemilik kalung di Aleppo Suriah begitu sangat jauh: 700-an kilometer. Tapi, ketika Allah mengijabah doa itu, tak ada yang tidak mungkin dalam kehendak Allah.
**
Jagalah sifat jujur, amanah, dan sifat-sifat kesolehan lainnya. Niscaya, Allah akan memberikan jalan keluar dari setiap kesulitan hidup dan menganugerahkan rezeki dari arah yang tidak diduga. [Mh]



