KHALIFAH itu jabatan yang paling tinggi dalam kekuasaan Islam. Gimana jika seorang khalifah diprotes langsung oleh seorang emak?
Salah satu kekhalifahan rasyidin setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Beliau menjabat selama kurang lebih sepuluh tahun. Wilayah kekuasaannya mencakup Semenanjang Arabia, Palestina, Suriah, Irak, Mesir, Persia (Iran saat ini), Armenia, Azerbaijan, Georgia, Turkimenistan, Afghanistan, dan barat daya Pakistan.
Suatu kali, di atas mimbar, Khalifah Umar mengeluarkan kebijakan tentang mahar. Khalifah memutuskan maksimal mahar tidak lebih dari 400 dirham. Kalau dirupiahkan sekitar 40 juta rupiah.
Alasannya, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat tidak pernah memberikan mahar lebih dari itu.
Saat itu, tak ada seorang pun yang memberikan pendapat. Meskipun di masa Khalifah Umar begitu banyak tokoh sahabat yang sangat memahami Al-Qur’an dan Sunnah.
Tiba-tiba, ada seorang ibu yang mengajukan protes. Nama ibu itu Khaulah binti Tsa’labah radhiyallahu ‘anha.
Beliau menggugat dasar dari kebijakan Khalifah mengeluarkan keputusan itu. Karena menurutnya, Allah subhanahu wata’ala membolehkan hal itu. Hal tersebut seperti dalam Surah An-Nisa ayat 20.
Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Dan jika kamu ingin mengganti isterimu dengan isteri yang lain, sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali sedikit pun daripadanya. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang palsu dan dengan dosa yang nyata?”
Khalifah Umar menyimak apa yang disampaikan Khaulah. Ia pun merenungkan kembali apa protes itu.
Saat itu juga, Khalifah menarik kembali kebijakannya. Beliau mengakui sebagai kesalahan, dan mengucapkan itu di depan umum.
Khalifah Umar akhirnya mengatakan, “Semua orang lebih paham agama daripada Umar, termasuk para wanita.”
**
Dalam Islam, pemimpin itu pelayan rakyatnya. Bukan sebaliknya. Serendah apa pun status sosial rakyatnya, jika didasari dalil yang kuat, sang pemimpin tak boleh mengabaikan suara dan protes mereka.
Sebenarnya, semua kita ini pemimpin dalam keluarga. Belajarlah untuk menjadi pemimpin yang bijak dan melayani. Siapa yang menyayangi, maka Allah subhanahu wata’ala akan menyayanginya. [Mh]



