BERMULA dari satu sekolah di Seine-Saint-Denis, pinggiran Paris, kini demo besar merembet ke 900 sekolah di lebih dari 40 kota di Prancis termasuk Paris.
Prancis kini dikepung demo besar para pelajar sejak akhir September 2026. Bahkan, aksi tersebut kini tidak hanya diikuti para pelajar. Melainkan sudah diikuti mahasiswa, orang tua, guru, dan buruh.
Berawal dari Satu Sekolah di Pinggiran Paris
Awalnya, demo itu berlangsung di sebuah sekolah di pinggiran Paris: Seine-Saint-Denis. Para pelajar itu melakukan mogok belajar dan duduk-duduk di depan sekolah. Mereka memprotes karena sarana sekolah yang tidak memadai: kelas yang sesak, banyaknya guru yang tidak hadir, dan pengapnya udara di sekolah.
Ketiadaan guru di wilayah itu disinyalir karena para guru lebih memilih mengajar ke wilayah perkotaan. Hal ini karena di sana mereka mendapatkan gaji yang lebih baik dan sarana bekerja yang lebih memadai.
Respon yang Keliru
Sayangnya, aksi demo itu disikapi dengan kekerasan oleh aparat kepolisian Prancis. Hal itulah yang akhirnya merembet ke sekolah-sekolah lain di 40 kota di Prancis. Bermula dari satu sekolah, kini sudah merembet ke 900 sekolah.
Bukan itu saja. Para peserta aksi juga bukan lagi para pelajar. Ada para orang tua yang marah karena anak-anak mereka diperlakukan kasar oleh polisi. Begitu pun dengan para mahasiswa, guru, dan buruh.
Intinya, keadaan buruk di lingkungan sekolah memantik kemarahan banyak pihak: pelajar, guru, orang tua, mahasiswa, dan buruh.
Aksi Anarkhis
Demo besar yang terlihat di televisi saat ini bukan lagi aksi damai para pelajar yang menuntut perbaikan sekolah mereka. Melainkan, ungkapan kemarahan rakyat Prancis terhadap ketidakadilan.
Aksi pun sudah menjadi tindakan anarkhis. Dikabarkan, sudah 24 sekolah dibakar. Dan sekitar 6 ribu orang ditangkap. Sebagian besar dari mereka adalah remaja di bawah 18 tahun.
Sejumlah korban berjatuhan. Rata-rata para korban juga remaja berusia di bawah umur. Ada yang terluka karena tindakan kekerasan aparat, dan tidak sedikit yang terkena ledakan granat.
Perdana Menteri Prancis, Sebastien Lecornu, telah memerintahkan jajarannya untuk menanggapi secara positif tuntutan para pelajar. Antara lain, perbaikan sarana sekolah, manajemen guru, dan durasi sekolah yang tidak terlalu lama.
Namun, hingga kini, aksi yang nyaris melumpuhkan 20 kota di Prancis itu masih terus berlangsung. Berbagai terobosan terus diupayakan. [Mh]


