ADA hal-hal dalam hidup yang ingin sekali kita pertahankan. Kita sudah berusaha menjaga, memperbaiki, bahkan berkali-kali meyakinkan diri bahwa semuanya masih bisa diselamatkan. Namun, pada titik tertentu kita harus menerima bahwa tidak semua yang kita inginkan memang ditakdirkan untuk tetap bersama kita.
Kehilangan sering kali membuat hati terus kembali ke masa lalu. Kita memikirkan apa yang seharusnya dilakukan, mengulang percakapan yang pernah terjadi, atau bertanya-tanya apakah keputusan yang berbeda akan membuat semuanya tetap bertahan. Padahal, terlalu lama tinggal di dalam penyesalan hanya akan membuat langkah kita semakin berat.
Baca Juga: Mengenal Apa itu Creatine dan Apa Saja Manfaatnya
Belajar Merelakan Apa yang Sudah Allah Ambil
Ada waktunya berjuang, tetapi ada pula waktunya belajar melepaskan.
Melepaskan bukan berarti tidak peduli. Bukan pula berarti semua yang pernah kita perjuangkan menjadi sia-sia. Ada hal-hal yang memang pernah begitu berarti, tetapi perjalanan hidup mengajarkan bahwa keberadaan sesuatu tidak selalu harus berlangsung selamanya.
Ketika sesuatu pergi, mungkin kita belum memahami alasannya. Hati masih bertanya mengapa Allah membiarkan hal yang kita sayangi hilang. Kita mungkin merasa sudah melakukan yang terbaik, tetapi hasilnya tetap tidak sesuai harapan.
Di saat seperti itu, keyakinan kepada Allah menjadi tempat untuk kembali.
Seorang muslim percaya bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang tidak diketahui manusia. Kita hanya melihat apa yang ada di depan mata, sementara Allah mengetahui seluruh perjalanan, termasuk sesuatu yang belum terjadi. Karena itu, tidak semua kehilangan berarti keburukan dan tidak semua yang bertahan berarti kebaikan.
Bisa jadi sesuatu yang sangat kita inginkan justru tidak baik bagi kehidupan kita. Sebaliknya, sesuatu yang awalnya terasa menyakitkan mungkin menjadi jalan menuju keadaan yang jauh lebih baik.
Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 216 bahwa boleh jadi manusia menyukai sesuatu padahal itu buruk baginya, dan membenci sesuatu padahal itu baik baginya. Allah mengetahui, sedangkan manusia tidak mengetahui.
Ayat tersebut mengajarkan satu hal penting: tidak semua yang kita inginkan harus menjadi milik kita.
Maka, jika sesuatu memang sudah pergi, jangan terus memaksa pintu yang telah tertutup. Jika sebuah hubungan sudah tidak dapat dipertahankan, jangan mengorbankan ketenangan hanya demi membuatnya tetap ada. Jika sebuah rencana gagal, jangan menganggap seluruh hidup juga ikut gagal.
Tetaplah berikhtiar, tetapi belajarlah menerima ketika Allah menentukan arah yang berbeda.
Percayalah bahwa Allah tidak pernah salah dalam menetapkan sesuatu. Apa yang menjadi bagian kita tidak akan tertukar, dan apa yang memang bukan untuk kita tidak perlu dipaksakan.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Mungkin hari ini kita belum mengerti alasan di balik sebuah kehilangan. Namun, suatu hari nanti kita bisa saja menoleh ke belakang dan bersyukur karena Allah tidak mengabulkan semua yang dulu kita perjuangkan.
Jadi, tidak perlu terus menggenggam sesuatu yang sudah Allah minta untuk dilepaskan. Tenangkan hati, lanjutkan hidup, dan tetap percaya bahwa Allah sedang menyiapkan kebaikan dengan cara yang mungkin belum kita pahami.
Tugas kita adalah berusaha dan berdoa. Selebihnya, biarkan Allah menentukan apa yang terbaik. [DW]
Sumber: Ustadzah Aisyah Farid





