“JANGAN lihat orang, jangan dengarkan orang. Yang dihisab itu kita. Pilihan hidup itu pilihan kita mau kerja di mana saja, itu hakmu. Tapi ingat, seseorang dimuliakan dengan amal salehnya, bukan jabatan, bukan harta, bukan ilmu.”
Kalimat sederhana ini menyimpan pengingat yang begitu dalam. Di zaman ketika media sosial membuat kita mudah membandingkan hidup dengan orang lain, sering kali kita lupa bahwa perjalanan setiap manusia berbeda. Kita sibuk melihat siapa yang gajinya lebih tinggi, siapa yang jabatannya lebih bergengsi, atau siapa yang terlihat lebih sukses. Padahal, pada akhirnya setiap orang akan mempertanggungjawabkan kehidupannya sendiri di hadapan Allah.
Baca Juga: Manfaat Susu Kurma untuk Kesehatan Wanita
Kemuliaan Hidup Tidak Ditentukan Oleh Jabatan
Membandingkan diri dengan orang lain hanya akan menguras hati. Ada yang memilih bekerja di perusahaan besar, ada yang menjadi guru, pedagang, penulis, petani, bahkan ibu rumah tangga. Semua adalah pilihan hidup yang mulia selama dijalani dengan cara yang halal dan penuh tanggung jawab. Tidak ada pekerjaan yang rendah jika dilakukan dengan kejujuran.
Sering kali tekanan datang bukan dari kenyataan, melainkan dari suara orang lain. “Kok kerjanya di situ?”, “Sayang sekali lulusan bagus tapi gajinya segitu,” atau “Harusnya kamu mengejar jabatan yang lebih tinggi.” Ucapan seperti itu mudah membuat seseorang merasa kurang. Padahal, manusia tidak hidup untuk memenuhi ekspektasi semua orang. Kita hidup untuk menjalankan amanah yang Allah titipkan kepada kita.
Islam mengajarkan bahwa ukuran kemuliaan bukanlah kedudukan duniawi. Jabatan bisa berakhir ketika masa tugas selesai. Harta bisa habis karena musibah. Bahkan ilmu yang dimiliki pun tidak akan bernilai jika tidak diamalkan. Yang menjadi bekal justru amal saleh yang dikerjakan dengan ikhlas. Senyum yang menenangkan orang lain, membantu orang tua, bekerja dengan jujur, menafkahi keluarga, hingga menjaga lisan dari menyakiti sesama adalah amal yang mungkin terlihat kecil, tetapi besar nilainya di sisi Allah.
Ini bukan berarti jabatan, harta, atau ilmu tidak penting. Ketiganya adalah nikmat yang dapat menjadi jalan menuju kebaikan. Seorang pemimpin dapat menghadirkan keadilan melalui jabatannya. Orang kaya dapat memperbanyak sedekah dengan hartanya. Orang berilmu dapat mengajarkan manfaat kepada banyak manusia. Namun, semua itu baru menjadi kemuliaan jika melahirkan amal saleh. Tanpa keikhlasan dan ketakwaan, gelar serta kekayaan hanyalah identitas dunia yang sementara.
Karena itu, berhentilah terlalu sibuk menoleh ke kanan dan ke kiri. Fokuslah memperbaiki niat dalam bekerja, menjaga integritas, dan memberi manfaat di mana pun kita berada. Jangan merasa rendah hanya karena profesi kita tidak terlihat mewah, dan jangan merasa lebih tinggi karena memiliki posisi yang dihormati.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Pada hari ketika setiap amal diperhitungkan, bukan kartu nama yang berbicara, melainkan perbuatan kita. Maka, pilihlah jalan hidup yang membuat hati tenang, rezeki halal, dan langkah kita semakin dekat kepada Allah. Itulah kemuliaan yang sesungguhnya. [DW]
Sumber: Ustadz Adi Hidayat





