ADA masa ketika penghasilan terasa berjalan di tempat sementara kebutuhan keluarga terus bertambah. Belanja dapur harus dipikirkan, biaya sekolah anak menunggu, cicilan tetap berjalan, dan kebutuhan kesehatan tidak bisa begitu saja diabaikan. Kondisi seperti ini tentu bukan perkara mudah. Bukan hanya dompet yang ikut tertekan, tetapi juga pikiran dan hubungan antaranggota keluarga.
Di balik rumah yang terlihat baik-baik saja, mungkin ada suami yang diam-diam menghitung sisa uang di rekening. Ada istri yang berkali-kali menyusun ulang daftar belanja agar kebutuhan utama tetap terpenuhi. Ada orang tua yang rela menunda membeli sesuatu untuk dirinya sendiri supaya anak mendapatkan apa yang dibutuhkan.
Baca Juga: Asma Binti Syakl Sahabiyah yang Tak Malu Belajar Agama
Ketika Ekonomi Sulit Jangan Biarkan Rumah Kehilangan Kehangatan
Tekanan ekonomi sering kali tidak berhenti sebagai persoalan angka. Ketika pikiran dipenuhi kekhawatiran tentang uang, seseorang bisa menjadi lebih mudah tersinggung, sensitif, atau memilih diam. Suami mungkin merasa terbebani karena ingin memenuhi kebutuhan keluarga tetapi keadaan belum memungkinkan. Di sisi lain, istri bisa merasa lelah karena harus mengatur banyak kebutuhan dengan dana yang terbatas.
Dalam kondisi seperti ini, pertengkaran kecil sangat mudah terjadi. Padahal, belum tentu masalah sebenarnya adalah kurangnya kasih sayang. Bisa jadi keduanya hanya sedang sama-sama lelah dan membutuhkan dukungan.
Karena itu, pasangan perlu mengingat bahwa mereka bukan sedang berhadapan satu sama lain. Suami dan istri berada di pihak yang sama. Yang sedang dihadapi bersama adalah kesulitan ekonomi.
Daripada mengatakan, “Kenapa kamu tidak bisa memenuhi kebutuhan ini?” akan lebih baik jika percakapan dimulai dengan, “Apa yang bisa kita lakukan bersama?” Kalimat sederhana dapat membuat pasangan merasa diajak mencari jalan keluar, bukan disalahkan.
Ketika suasana hati sedang panas, tidak ada salahnya mengambil jeda. Tenangkan diri terlebih dahulu, kemudian bicarakan masalah saat pikiran sudah lebih jernih. Setelah itu, duduklah bersama dan lihat kondisi keuangan secara terbuka. Hitung pemasukan, tentukan kebutuhan yang paling penting, kurangi pengeluaran yang tidak mendesak, dan cari kemungkinan tambahan penghasilan jika memang diperlukan.
Keterbukaan memang terkadang membuat kita tidak nyaman. Namun, ketidakjujuran dan saling menyimpan beban justru dapat membuat masalah semakin berat.
Yang tidak kalah penting, jangan mengukur kebahagiaan keluarga hanya dari kemampuan membeli sesuatu. Anak tidak selalu membutuhkan liburan mahal atau hadiah besar. Waktu bersama, makan sederhana sambil berbincang, perhatian orang tua, dan rumah yang penuh kasih sayang juga merupakan bentuk kebahagiaan.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Masa sulit mungkin membuat keluarga harus hidup lebih sederhana untuk sementara. Namun, jangan sampai keadaan ekonomi membuat suami istri saling menjauh. Selama masih mau berkomunikasi, saling memahami, dan bergandengan tangan mencari jalan keluar, rumah tetap bisa menjadi tempat pulang yang paling menenangkan. [DW]
Sumber: Ustadzah Eko Yuliarti Siroj





