KETIKA mendengar kata pelit, kebanyakan orang langsung membayangkan seseorang yang enggan berbagi kepada orang lain. Padahal, ada bentuk kikir yang sering tidak disadari, yaitu terlalu berat memenuhi kebutuhan diri sendiri meskipun Allah telah memberikan kemampuan. Sikap ini terlihat sederhana, tetapi jika dibiarkan bisa berubah menjadi kebiasaan yang menyulitkan hidup.
Tidak sedikit orang yang rela mengeluarkan uang untuk keluarga, teman, atau orang lain, tetapi selalu menunda saat dirinya membutuhkan sesuatu. Ketika sakit, ia berkata, “Nanti saja ke dokter.” Saat sepatu sudah rusak atau pakaian sudah tidak layak, ia tetap memakainya demi menghemat. Bahkan ketika tubuh meminta istirahat, ia memilih terus bekerja tanpa memberi kesempatan untuk memulihkan tenaga.
Baca Juga: Asma Binti Syakl Sahabiyah yang Tak Malu Belajar Agama
Jangan Menjadi Kikir pada Diri Sendiri
Berhemat memang merupakan sikap yang baik. Islam juga mengajarkan umatnya agar tidak hidup boros dan menghamburkan harta pada hal yang sia-sia. Namun, berhemat berbeda dengan menyiksa diri karena terlalu mencintai harta. Allah tidak melarang kita menikmati rezeki yang halal, justru Dia mengajarkan keseimbangan dalam mengelolanya.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 29, “Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya.” Ayat ini mengajarkan agar seorang muslim tidak bersikap kikir, tetapi juga tidak berlebihan dalam membelanjakan hartanya. Jalan terbaik adalah berada di tengah, yaitu bijak menggunakan rezeki sesuai kebutuhan dan kemampuan.
Tubuh yang kita miliki adalah amanah dari Allah. Karena itu, menjaga kesehatan juga termasuk bentuk ibadah. Membeli makanan bergizi, berobat ketika sakit, memiliki pakaian yang layak, atau menyediakan waktu untuk beristirahat bukanlah pemborosan apabila memang diperlukan. Semua itu adalah bagian dari mensyukuri nikmat yang telah Allah titipkan.
Sering kali rasa takut kehilangan harta membuat seseorang lupa bahwa rezeki datang dari Allah. Padahal, harta hanyalah alat untuk membantu kita menjalankan kehidupan dengan lebih baik. Menahannya terus-menerus hingga mengabaikan kebutuhan diri tidak akan menambah keberkahan, justru bisa mengurangi kualitas hidup dan kesehatan.
Belajarlah mencintai harta dengan kadar yang wajar. Sisihkan sebagian untuk sedekah, simpan untuk masa depan, dan gunakan untuk memenuhi kebutuhan yang halal. Jangan merasa bersalah ketika membeli sesuatu yang memang dibutuhkan, karena tubuh, waktu, dan kesehatan juga memiliki hak yang harus dipenuhi.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Menjadi sederhana adalah akhlak yang mulia. Namun, jangan sampai kesederhanaan berubah menjadi kekikiran terhadap diri sendiri. Sebaik-baiknya pengelola harta adalah mereka yang mampu menyeimbangkan antara berbagi kepada sesama dan memberikan hak bagi dirinya sebagai amanah dari Allah. [DW]
Sumber: Ustadzah Oki Setiana Dewi





