ANOMALI atau keanehan langkah kebijakan politik Arab Saudi kian nyata. Alih-alih membangun poros Islam untuk kemerdekaan Palestina, negara yang kini dinakhodai Muhammad bin Salman ini justru kian ‘lengket’ dengan AS.
Sudah menjadi rahasia umum di kalangan jamaah haji atau umrah: jangan menampakkan atribut Palestina di Mekah atau Madinah kalau tidak ingin berurusan dengan pihak keamanan setempat.
Hal ini pernah diceritakan seorang jamaah umrah asal Indonesia. Sebut saja namanya Udin.
Anak muda ini tanpa sadar sedang menjadi perhatian aparat keamanan Saudi di sekitar Mekah. Pasalnya, ia sedang foto-foto dengan jamaah umrah lain dengan ponsel yang tertempel stiker ‘Free Palestine’.
Selain itu, ia pun mengenakan sorban atau selendang ciri khas yang biasa dikenakan tokoh-tokoh Palestina seperti Ismail Haniye.
Udin pun akhirnya dibawa aparat keamanan menuju pos keamanan. Di sana, ia diinterogasi. Ponselnya ditahan.
Namun, karena ada petugas keamanan Saudi yang bisa berbahasa Indonesia, akhirnya ‘tanya jawab’ petugas dan Udin bisa berjalan lancar. Mungkin dianggap baik-baik saja, Udin akhirnya dilepas dan bisa kembali ke keluarganya yang juga ikut dalam rombongan umrah.
Aramco dan Pangkalan Militer AS di Saudi
Sebagian orang mungkin tidak menyadari tentang nama perusahaan minyak di Arab Saudi yang bernama Aramco. Nama ini merupakan singkatan. Yaitu, Arabian American Oil Company. Kantor pusatnya di Dhahran, Arab Saudi.
Perusahaan ini berdiri pada tahun 1933 sebagai kerjasama antara Arab Saudi dengan perusahaan-perusahaan asal Amerika. Sejak dinasionalisasi penuh pada tahun 1980, namanya diubah menjadi Saudi Arabian Oil Company pada tahun 1988. Tapi, tetap menggunakan merek dagang Aramco.
Sementara itu, sejumlah pangkalan militer AS juga berdiri di Arab Saudi. Berdirinya pangkalan ini pertama kali pada tahun 1991. Pasukan AS masuk ke Saudi secara besar-besaran karena adanya perang teluk dengan Irak. Mereka menggunakan Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Al-Kharj.
Pada tahun 2003, sebagian pasukan di pangkalan ini dipindahkan ke Qatar, di pangkalan Udara Al-Udeid.
Namun pada tahun 2019, AS kembali mengirim ribuan tentaranya ke Saudi untuk merespon ketegangan dengan Iran. Bahkan kali ini, pangkalan dilengkapi dengan sejumlah peralatan militer canggih seperti pertahanan rudal patriot dan jet tempur terbaru.
Hampir Membuka Hubungan Diplomatik dengan Israel
Pada sekitar bulan September 2023, Pangeran MBS menyatakan melalui sejumlah media AS bahwa pihaknya tak lama lagi akan membuka hubungan diplomatik dengan Israel.
Seperti gayung bersambut, pihak Israel melalui pejabat tingginya: Netanyahu, juga menyuarakan ‘selamat datang’ kepada Arab Saudi yang akan membuka hubungan diplomatik dengan pihaknya.
Hal itu disampaikan Netanyahu dalam momen Sidang Umum PBB di tahun yang sama. Bahkan, ia sempat menyebut bahwa ada kekeluargaan antara Israel dan Arab Saudi, yaitu melalui keturunan Ishak dan Ismail.
Tidak Ada Keberpihakan dengan Palestina
Setelah serangan besar-besaran Israel ke Gaza dan Palestina pada Oktober 2023, nyaris, tak ada ucapan kecaman dari pejabat atau tokoh Arab Saudi. Padahal, dunia internasional mengungkapkan kecaman terbuka terhadap genosida Israel di Palestina.
Hingga setelah hampir tiga tahun berlalu, pemerintah Saudi tidak menunjukkan keberpihakan yang jelas terhadap Palestina.
Yang terjadi justru seperti sebaliknya. Pada Nopember 2025, MBS melakukan kunjungan khusus ke AS menemui Trump dan jajarannya. Saudi menyampaikan kesepakatan investasi jumbo. Dari yang semula disepakati 600 miliar dolar AS, saat itu naik menjadi 1 triliun dolar AS.
Dikabarkan, investasi itu mencakup kerjasama bidang teknologi AI, industri dan pertahanan kedua negara.
Menariknya, entah hal ini kebetulan atau lainnya, sebulan setelah kesepakatan investasi jumbo itu, pada Desember 2025 terjadi kerusuhan massa di Iran. Puncaknya, pada Januari 2026. Tapi, rusuh massa gagal menjatuhkan rezim di Iran.
Pada akhir Januari itu, entah berkaitan atau tidak, Menhan Saudi yang juga adik dari MBS: Khalid bin Salman melakukan kunjungan ke AS. Ia bertemu dengan Menlu AS dan Menhan Pete Hegseth.
Meski tidak berkaitan langsung dengan Saudi, pada akhir Februari lalu, AS dan Israel melakukan serangan bersama terhadap Iran. Saat itu, Trump dan Netanyahu sesumbar sudah menghancurkan rezim di Iran. Tapi kenyataannya, keadaannya menjadi terbalik.
Akibat perlawanan dari Iran, kesengsaraan justru terjadi di pihak Arab Saudi dan negara-negara teluk: Kuwait, Qatar, UEA, Bahrain, dan Oman. Yaitu, setelah ditutupnya selat Hormuz yang menyetop produksi dan distribusi minyak di kawasan itu.
Kini, perang dengan Arab Saudi justru meluas ke kawasan Yaman, wilayah di selatan Arab Saudi. Dan perang ini berpotensi ditutupnya selat Bab Al-Mandeb di perairan Laut Merah.
Jika pasokan minyak dari jalur ini ditutup, habislah sudah distribusi minyak Arab Saudi ke dunia internasional. Bukan hanya Saudi yang merasakan kesengsaraan, dunia pun akan mengalami hal yang sama. [Mh]


