TIDAK semua nama sahabiyah dikenal luas seperti Khadijah, Aisyah atau Nusaibah. Namun, sejarah Islam menyimpan banyak perempuan yang memiliki keberanian luar biasa dan mengambil bagian dalam peristiwa penting perjuangan Rasulullah. Salah satunya adalah Asma binti Amr radhiyallahu ‘anha. Ia merupakan perempuan dari kalangan Anshar yang tercatat sebagai salah satu dari dua perempuan yang hadir dalam Baiat Aqabah kedua.
Asma binti Amr dikenal juga dengan kunyah Ummu Mani’. Ia berasal dari Bani Salamah di Madinah. Ketika Islam mulai berkembang di Yatsrib, Asma termasuk perempuan yang menerima dakwah Islam dan memiliki keyakinan kuat terhadap Rasulullah. Namanya kemudian tercatat dalam salah satu peristiwa yang menjadi titik penting perjalanan dakwah Islam.
Baca Juga: Keteguhan Ummu Sinan Al Aslamiyah dalam Mengabdi di Jalan Allah
Asma Binti Amr Perempuan Tangguh yang Teguh Membela Rasulullah
Baiat Aqabah kedua berlangsung secara sembunyi-sembunyi di sebuah tempat bernama Aqabah. Saat itu, puluhan kaum Muslimin dari Yatsrib datang menemui Rasulullah untuk menyatakan kesetiaan sekaligus kesediaan memberikan perlindungan kepada beliau. Dari rombongan tersebut terdapat 73 laki-laki dan dua perempuan. Dua perempuan itu adalah Nusaibah binti Ka’ab dan Asma binti Amr.
Kehadiran Asma dalam peristiwa tersebut menjadi bukti bahwa perempuan pada masa Rasulullah juga memiliki peran dalam perjalanan dakwah. Ia bukan sekadar hadir sebagai pendamping rombongan, tetapi ikut menyatakan baiat kepada Rasulullah.
Ada kisah yang membuat keteguhan Asma semakin mengesankan. Saat perjalanan menuju Makkah untuk menemui Rasulullah, ia sedang dalam kondisi hamil tua. Namun, kehamilan tersebut tidak membuat semangatnya untuk menghadiri pertemuan dengan Rasulullah menjadi surut. Bahkan, ia melahirkan putranya yang bernama Syibath pada waktu yang berdekatan dengan malam Baiat Aqabah. Meski baru saja melahirkan, Asma tetap tercatat sebagai perempuan yang menghadiri peristiwa bersejarah tersebut.
Keteladanan Asma binti Amr dapat dilihat dari keberaniannya dalam mengambil sikap. Ia hidup pada masa ketika mempertahankan keimanan bukan perkara mudah. Baiat yang dilakukan para sahabat bukan sekadar janji biasa. Mereka menyatakan kesiapan untuk mendukung dan melindungi Rasulullah serta menghadapi berbagai risiko demi mempertahankan agama.
Bagi Asma, keimanan tidak berhenti pada keyakinan di dalam hati. Ia menunjukkan bahwa keyakinan membutuhkan keberanian untuk diwujudkan. Perjalanan yang melelahkan, kondisi kehamilan dan keadaan dakwah yang penuh tantangan tidak menghalanginya untuk mengambil bagian.
Kisah Asma juga mengingatkan bahwa kontribusi seorang perempuan dalam perjuangan Islam tidak selalu harus diwujudkan melalui sesuatu yang besar di hadapan manusia. Keteguhan memegang iman, keberanian mengambil keputusan dan kesediaan berada di barisan orang-orang yang membela kebenaran merupakan bentuk perjuangan yang sangat berarti.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Nama Asma binti Amr mungkin tidak sebanyak sahabiyah lainnya disebut dalam berbagai kisah. Namun, jejaknya dalam Baiat Aqabah menjadi pengingat bahwa ada perempuan-perempuan Anshar yang berani berdiri bersama Rasulullah ketika dakwah Islam sedang memasuki fase penting.
Dari kisahnya, kita dapat belajar bahwa keterbatasan keadaan tidak selalu menjadi alasan untuk berhenti berbuat baik. Selama hati memiliki keyakinan dan tujuan yang benar, seseorang tetap dapat mengambil peran sesuai kemampuan. Itulah salah satu keteladanan Asma binti Amr yang layak dikenang oleh setiap Muslimah. [DW]





