TIDAK semua sahabiyah meninggalkan kisah panjang tentang perjalanan hidupnya. Ada yang namanya hanya muncul dalam satu atau beberapa riwayat, tetapi pertanyaannya kepada Rasulullah justru menjadi ilmu yang terus dipelajari umat Islam hingga sekarang.
Salah satunya adalah Asma binti Syakl. Ia merupakan seorang perempuan dari kalangan Anshar yang datang kepada Rasulullah untuk menanyakan persoalan bersuci setelah haid. Pertanyaan yang disampaikannya menjadi salah satu riwayat penting dalam pembahasan fikih thaharah.
Baca Juga: Keteguhan Ummu Sinan Al Aslamiyah dalam Mengabdi di Jalan Allah
Asma Binti Syakl Sahabiyah yang Tak Malu Belajar Agama
Berani Bertanya tentang Persoalan Penting
Pada masa itu, membicarakan persoalan yang berkaitan dengan haid dan kebersihan setelahnya tentu bukan perkara yang mudah. Namun, Asma binti Syakl tidak membiarkan rasa malu menghalanginya untuk mencari pemahaman agama.
Ia mendatangi Rasulullah dan bertanya bagaimana seorang perempuan melakukan mandi setelah selesai haid. Rasulullah kemudian menjelaskan tata cara bersuci, termasuk membersihkan tubuh dan rambut dengan baik. Beliau juga menyebut penggunaan kain atau kapas yang diberi wewangian untuk membersihkan bekas darah.
Asma masih merasa belum memahami maksud penjelasan tersebut sehingga kembali bertanya. Sikapnya menunjukkan bahwa bertanya bukan tanda seseorang tidak memiliki ilmu. Justru, pertanyaan yang tepat dapat menjadi jalan untuk memperoleh pemahaman yang benar.
Dalam riwayat yang dicantumkan Imam Muslim, Aisyah radhiyallahu ‘anha kemudian membantu menjelaskan kepada Asma bahwa kain tersebut digunakan untuk membersihkan bekas darah haid. Setelah itu, Aisyah memberikan sebuah pelajaran yang sangat indah: rasa malu tidak seharusnya menghalangi seorang perempuan untuk memahami persoalan agamanya.
Keteladanan Asma Binti Syakl
Salah satu pelajaran terbesar dari Asma adalah keberaniannya mencari ilmu. Ia tidak memilih diam hanya karena pertanyaannya dianggap sensitif. Baginya, memahami ajaran agama jauh lebih penting daripada merasa malu di hadapan orang lain.
Sikap seperti ini masih sangat relevan bagi perempuan Muslim saat ini. Banyak persoalan mengenai menstruasi, bersuci, kesehatan reproduksi, dan ibadah yang terkadang membuat seseorang ragu untuk bertanya. Padahal, ketidaktahuan justru dapat membuat seseorang melakukan ibadah dengan cara yang kurang tepat.
Asma memberikan contoh bahwa rasa malu tetap memiliki tempat dalam Islam, tetapi rasa malu tidak boleh menjadi penghalang untuk mencari kebenaran dan ilmu.
Belajar dengan Tidak Takut Salah
Ada hal lain yang menarik dari kisah Asma. Ia tidak berhenti setelah mendapatkan jawaban pertama. Ketika belum memahami maksud Rasulullah, ia bertanya lagi.
Ini merupakan teladan penting dalam proses belajar. Tidak semua penjelasan langsung dapat dipahami dalam satu kesempatan. Bertanya kembali dengan sopan jauh lebih baik daripada membawa pulang kebingungan.
Kisah tersebut juga memperlihatkan bagaimana Rasulullah memberikan penjelasan mengenai persoalan yang sangat pribadi dengan tetap menjaga adab. Aisyah radhiyallahu ‘anha pun hadir membantu menjelaskan sesuatu yang mungkin terasa sulit disampaikan secara langsung.
Ilmu Membutuhkan Keberanian
Asma binti Syakl mungkin bukan nama yang sering disebut dalam kisah-kisah populer tentang shahabiyah. Namun, satu pertanyaan yang ia ajukan telah menjadi bagian dari khazanah hadis dan fikih Islam.
Dari dirinya kita belajar bahwa seseorang tidak harus terkenal untuk memberikan manfaat besar. Kadang-kadang, keberanian bertanya dengan niat mencari ilmu justru dapat meninggalkan warisan yang jauh lebih panjang daripada usia manusia.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Semoga kisah Asma binti Syakl mengingatkan kita agar tidak malu belajar, tidak takut bertanya, dan tidak merasa rendah ketika belum mengetahui sesuatu. Sebab, orang yang benar-benar ingin dekat dengan Allah adalah mereka yang mau terus belajar dan memperbaiki diri. [DW]





