MERASA lebih mulia menunjukkan kedegilan hati seseorang. Ketika merasa lebih mulia, sebenarnya dialah yang paling hina dari yang lain.
Ada seorang ahli sufi bernama Abu Yazid Al-Busthami. Nama aslinya Tayfur bin Isa. Lahir pada tahun 184 Hijriah di sebuah daerah bernama Bistami, sebelah Tenggara Laut Kaspia.
Suatu hari, Abu Yazid sedang berjalan dan berpapasan dengan seekor anjing. Karena takut baju gamisnya terkena najis dari tubuh anjing, ia langsung mengangkat tinggi-tinggi baju gamisnya agar tidak tersentuh sang anjing.
Ketika keduanya berpapasan, tiba-tiba sang anjing menoleh ke arah wajah Abu Yazid. Dengan izin Allah, anjing itu mengatakan, “Kenapa kau angkat gamismu tinggi-tinggi? Takut terkena najisku? Kalau pun terkena najisku, kau bisa mencucinya tujuh kali dengan campuran air dan tanah.
“Tapi, perhatikanlah najis kesombongan yang ada dalam hatimu. Meskipun kau cuci dengan tujuh lautan, itu tak akan bisa suci.”
Saat itu juga, Abu Yazid menyadari kekeliruannya. Ia meminta maaf kepada anjing itu.
**
Ujian paling berat dari seorang pejabat adalah merasa paling berkuasa. Ujian paling berat dari seorang pakar adalah merasa paling pintar. Dan ujian paling berat dari orang soleh adalah merasa paling dekat dengan Allah subhanahu wata’ala dari yang lain.
Yakinlah, bahwa orang yang merasa paling mulia sebenarnya yang paling hina. Karena kesombongan menjadikan seseorang menjadi sangat bodoh. Bagaimana mungkin orang bisa merasa ‘paling punya’ dari kepemilikan yang Allah titipkan kepadanya.
Rendahkanlah hati kepada hamba-hamba Allah, siapa pun mereka. Ikutilah jurus padi: semakin berisi, semakin merendah. [Mh]





