MUKMIN itu bersaudara. Justru, persaudaraan karena ikatan imanlah yang melampaui persaudaraan lain.
Abu Huzaifah bin Utbah bin Rabi’ah radhiyallahu ‘anhu merupakan sahabat Nabi yang awal-awal masuk Islam. Dari situ, Abu Huzaifah juga mengajak istri, keponakan, termasuk juga budaknya yang masih belia: Salim radhiyallahu ‘anhum.
Salim itu budak sejak kecil. Ia berasal dari negeri Persia. Ia tidak tahu siapa ayah dan ibunya karena sejak kecil sudah berada di keluarga Abu Huzaifah.
Sosok Salim ini ternyata bukan anak sembarangan. Otaknya begitu cerdas dan ruhaninya begitu istimewa. Ia dijadikan Rasulullah sebagai salah satu sahabat yang mencatat turunnya Al-Qur’an sejak masih di Mekah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah merekomendasikan empat sahabat Nabi untuk dijadikan rujukan ilmu Al-Qur’an. Keempatnya adalah Abdullah bin Mas’ud, Ubay bin Ka’ab, Muadz bin Jabal, dan Salim maula Abu Huzaifah radhiyallahu ‘anhum.
Saat remaja, Salim dimerdekakan oleh Abu Huzaifah. Ia diangkat anak oleh Abu Huzaifah. Tapi, karena ada larangan syariat tentang menasabkan yang bukan anak kandung, Abu Huzaifah menikahkan Salim dengan keponakannya: Fatimah binti Walid.
Setelah hijrah di Madinah, Salim dan Abu Huzaifah ikut dalam perang Badar. Menariknya, di antara yang harus mereka perangi dari kaum musyrik Quraisy adalah ayah, paman, dan saudara kandung Abu Huzaifah sendiri: Utbah bin Rabi’ah (ayah), Subhah bin Rabi’ah (paman), dan Walid bin Utbah (saudara kandung) yang merupakan ayah dari Fatimah.
Abu Huzaifah dan Salim bersama-sama memeriksa jenazah keluarga besarnya itu. Abu Huzaifah mengatakan, “Alhamdulillah atas kemenangan pasukan Rasulullah, dan ruginya mereka mati sia-sia.”
Hati Abu Huzaifah sudah terwarnai kuat dengan iman dan Islam. Sedikit pun ia tidak menyesali tentang kematian ayah, paman, dan saudara kandungnya itu, karena mereka mati dalam keadaan kafir.
Sementara itu, ia menganggap Salim yang sama sekali tidak ada ikatan nasab sebagai saudara utamanya.
Allah subhanahu wata’ala memberkahi persaudaraan keduanya. Hal ini ditandai dengan syahid keduanya dalam Perang Yamamah di masa Kekhalifahan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Bahkan, keduanya syahid dengan posisi jenazah yang bersebelahan.
**
Di antara keutamaan iman adalah kecintaan sesama muslim sebagaimana mencintai dirinya sendiri.
Ulama menjelaskan bahwa persaudaraan Islam yang paling rendah adalah bersihnya hati terhadap sesama muslim: tidak iri, hasad, buruk sangka, dan lainnya.
Sementara persaudaraan yang paling tinggi adalah mengutamakan sesama muslim melebihi kepentingan dirinya sendiri, walaupun sebenarnya ia butuh.
Allah selalu menolong hamba-Nya selama sang hamba selalu menolong saudaranya sesama muslim. [Mh]





