SEORANG siswa mengangkat tangan di tengah sesi. Pertanyaannya polos, tapi menohok: “Mengapa sampai saat ini Israel masih mempertahankan Masjidil Aqsa dan tidak dihancurkan? Apakah warga Israel ada kepentingan juga dengan Masjidil Aqsa?”
Jawabannya ternyata lebih mengejutkan dari pertanyaannya.
Israel tidak sedang mempertahankan Al-Aqsa. Mereka mau merebutnya, tapi pelan-pelan. Di bulan kemarin saja, pasukan Israel menyerbu masuk kompleks Masjid Al-Aqsa sebanyak 26 kali, mengawal 4000 pemukim Israel. Sedangkan yang muslim dilarang. Jauh sebelumnya, kelompok sayap kanan radikal Israel sudah menyebarkan gambar Kuil Ketiga di lokasi Al-Aqsa sekarang. Cita-cita itu ada, tinggal eksekusi. Para siswa di MA Al-Manaar, Purwakarta, baru mengetahui hal semacam ini hari ini.
Baca Juga: JHEC 2026 Buka Akses Pasar Global bagi Produk Halal Indonesia
Siswa MA Purwakarta Baru Tahu Al-Aqsa Sedang Dirampas, Padahal Puluhan Kali Israel Lakukan dalam Sebulan

Baik Berisik Purwakarta menggelar Goes to School di MA Al-Manaar, pagi ini (4/9). 39 pelajar ikuti sesi edukasi yang dikemas dalam pemaparan materi, diskusi, dan games. Firdaus Azhardi, S.E. hadir sebagai pemateri.
Salah satu siswa bilang, “Aku pernah denger, katanya Hamas adalah biang kerok yang mulai nyerang duluan 7 Oktober.” Firdaus kemudian mendorong mereka mundur lebih jauh ke akar masalah. Bahwa penjajahan sudah puluhan tahun, diblokade belasan tahun, “Hamas ini asap, apinya adalah Israel. Kayak Belanda waktu jajah Indonesia. Tidak akan ada Sarekat Islam, Masyumi, NU, Muhammadiyah, dan Persis kalau Indonesia tidak dijajah. Jadi bagaimana mungkin menyalahkan rakyat yang dijajah?” ujar Firdaus.
Analogi itu membuat ruangan hening. Sebuah cara membaca sejarah yang mengajak siswa berpikir kausalitas. Gerakan perlawanan lahir sebab ada penindasan yang mendahuluinya, bukan sebaliknya.
Firdaus juga mengingatkan bahwa belajar tentang Palestina bukan agenda satu hari. “Belajar tentang Baitul Maqdis dan Palestina tidak berhenti hari ini. Besok, pekan depan, tahun depan, dan selanjutnya kita terus pantau berita di Palestina. Kita harus mencari tahu kenapa Baitul Maqdis harus diperjuangkan.”
Para peserta merespons dengan antusias. “Seru parah, bikin mood aku langsung naik,” tulis salah satu peserta dalam sticky notes kesan pesan setelah acara.
Ketua pelaksana, Yunira Putri Islami, melihat antusiasme itu bukan sebagai tujuan akhir melainkan titik awal. “Satu generasi menanam, generasi selanjutnya melanjutkan. Yang terpenting estafet perjuangan ini jangan sampai terputus hingga Baitul Maqdis terbebas.” [DW]





