DALAM sejarah Islam, banyak shahabiyah yang dikenal karena keberanian, ilmu, dan ketakwaannya. Salah satunya adalah Dhuba’ah binti Amir, yang lebih dikenal dalam kitab-kitab hadis sebagai Dhuba’ah binti Az-Zubair bin Abdul Muththalib, sepupu Rasulullah. Kisahnya tidak banyak diceritakan seperti Khadijah atau Aisyah, tetapi satu peristiwa hidupnya menjadi pelajaran besar bagi kaum muslimin, khususnya bagi mereka yang ingin menunaikan ibadah haji dan umrah.
Dhuba’ah adalah seorang wanita mulia dari Bani Hasyim. Ia menikah dengan sahabat besar, Al-Miqdad bin Al-Aswad radhiyallahu ‘anhu, salah seorang pejuang yang ikut dalam Perang Badar. Dari keluarga inilah lahir generasi yang tumbuh dalam naungan iman dan kecintaan kepada Rasulullah.
Baca Juga: Asy Syifa Binti Abdullah Perempuan Cerdas yang Mengajarkan Ilmu kepada Muslimah
Keteladanan Dhubaah Binti Amir dalam Menyerahkan Urusan kepada Allah
Keinginan Berhaji di tengah Kondisi Sakit
Suatu hari Dhuba’ah datang menemui Rasulullah dengan membawa kegelisahan. Ia memiliki keinginan yang sangat besar untuk menunaikan ibadah haji, tetapi tubuhnya sedang lemah dan sakit. Ia khawatir tidak mampu menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah apabila kondisi kesehatannya semakin memburuk di perjalanan.
Dengan penuh adab ia bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, aku ingin berhaji. Bolehkah aku membuat syarat ketika ihram?” Pertanyaan sederhana itu kemudian melahirkan salah satu sunnah yang sangat penting dalam fikih haji.
Rasulullah Mengajarkan Doa yang Penuh Tawakal
Rasulullah menjawab, “Ya, berhajilah dan buatlah syarat.” Beliau kemudian mengajarkan Dhuba’ah membaca talbiyah dengan tambahan doa:
“Allahumma mahilli haitsu habastani.”
Artinya, “Ya Allah, tempat tahallulku adalah di mana saja Engkau menahanku.” Maksudnya, apabila ia benar-benar terhalang karena sakit atau uzur syar’i, maka ia diperbolehkan bertahallul tanpa terkena kewajiban dam sebagaimana orang yang meninggalkan manasik tanpa uzur. Hadis ini diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, dan kitab-kitab hadis lainnya.
Pelajaran tentang Ikhtiar dan Tawakal
Yang membuat kisah Dhuba’ah begitu istimewa bukan hanya doa tersebut, tetapi sikap hatinya. Ia tidak membatalkan niat berhaji hanya karena sakit. Sebaliknya, ia tetap berikhtiar menjalankan ibadah sambil menyerahkan hasilnya kepada Allah. Inilah keseimbangan yang diajarkan Islam: berusaha semaksimal mungkin, namun tetap menyadari bahwa segala kemampuan berada di bawah kehendak Allah.
Dari Dhuba’ah kita belajar bahwa keterbatasan fisik bukan alasan untuk berhenti mendekat kepada Allah. Justru dalam kelemahan itulah seorang hamba menunjukkan ketergantungannya kepada Rabb semesta alam.
Teladan bagi Muslimah Sepanjang Zaman
Kisah Dhuba’ah juga mengajarkan pentingnya mencari ilmu sebelum beribadah. Ia tidak berasumsi sendiri tentang hukum haji ketika sakit, tetapi datang bertanya kepada Rasulullah. Sikap rendah hati untuk belajar inilah yang menjadikan ibadah lebih benar dan lebih menenangkan hati.
Bagi calon jamaah haji maupun umrah, sunnah isytirath (membuat syarat ketika ihram) masih diamalkan hingga hari ini bagi mereka yang memiliki kekhawatiran karena sakit, usia lanjut, atau kondisi tertentu. Semua berawal dari keteladanan seorang shahabiyah yang jujur mengakui kelemahannya di hadapan Nabi.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Semoga Allah menanamkan dalam hati kita semangat Dhuba’ah: tidak menyerah karena keterbatasan, selalu bertanya kepada ahlinya ketika belum memahami agama, dan senantiasa bertawakal kepada Allah dalam setiap langkah ibadah. [DW]





