ENERGI positif itu menular, begitu pun dengan energi negatif. Karena itu, selalu sebarkan energi positif, meskipun keadaannya terasa negatif.
Salah satu standar dalam percakapan tradisi Islam adalah menyampaikan bahwa kabar kita baik: bikhairin insya Allah. Insya Allah, kabar saya baik-baik saja.
Kata insya Allah menunjukkan doa, sekaligus baik sangka dengan takdir Allah. Walaupun sebenarnya, ada hal yang tidak nyaman yang dirasakan.
Kemudian, lawan bicara akan mengaminkan, dengan ucapan alhamdulillah. Dengan begitu, suatu harapan positif ketika disambut dengan harapan yang sama, maka akan menjadi sinergi kuat untuk mengusir energi negatif.
Setan selalu menghembuskan bisikan tentang energi negatif: ketakutan, putus asa, kemarahan, kelemahan, dan lainnya. Karena itu, jangan berikan ruang sehingga bisikan setan berubah menjadi kenyataan dalam diri kita.
Coba perluas cakralawa berpikir kita. Yang umumnya disebarluaskan tentang hal buruk sebenarnya hanya sebagian kecil dari sisi kehidupan kita. Misalnya, perilaku buruk tentang pejabat, padahal masih banyak pejabat lain yang baik, dan lainnya.
Inilah kenapa mereka yang tinggal di desa, jauh dari hingar-bingar informasi manipulatif, keadaan hidupnya lebih bahagia dari mereka yang ‘terkungkung’ dengan isu sempit dari informasi yang manipulatif.
Inilah kenapa seorang sahabat Nabi yang selalu berbaik sangka dengan saudara muslim lainnya, disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai calon penghuni surga.
Sebarkan energi positif ke orang-orang yang kita cintai. Jangan ‘seret’ mereka kedalam energi negatif yang kita punya. Selalulah perbanyak zikir dan doa, agar apa yang kita harapkan selalu menjadi kenyataan. [Mh]





