SKOLIOSIS pada remaja atau posisi tubuh yang kurang tepat menjadi ancaman tersendiri bagi santri. Kebiasaan duduk dalam jangka waktu yang lama menjadi rutinitas sehari-hari santri Pondok Pesantren Nurul Hidayah Al-Bina karena aktivitas belajar dan mengaji. Namun, tanpa disadari posisi tubuh yang kurang tepat ketika duduk dalam jangka waktu yang lama dapat memengaruhi kesehatan postur tubuh, terutama pada masa perkembangan.
Hal tersebut menjadi perhatian Himpunan Mahasiswa Fisioterapi Universitas Indonesia (HIMAFIS UI). Melalui kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Nurul Hidayah Al-Bina Bogor pada 8 Agustus 2026, mahasiswa berfokus pada deteksi dini risiko skoliosis dengan menggabungkan edukasi kesehatan dengan pemeriksaan postur secara langsung kepada santri.
Santri Pondok Pesantren Nurul Hidayah Al-Bina menjadi sasaran kegiatan yang dirancang untuk meningkatkan pemahaman mengenai kesehatan tulang belakang sekaligus mengenali tanda-tanda adanya gangguan postur sedari dini. Pemilihan kelompok remaja dilakukan karena masa pertumbuhan merupakan masa penting dan memerlukan perhatian penuh terhadap perubahan postur tubuh.
Dalam sesi edukasi, para santri diperkenalkan pada skoliosis sebagai kondisi ketika tulang belakang mengalami kelengkungan yang tidak normal seperti huruf “C” atau huruf “S”. Pada remaja terdapat istilah AIS atau “Adolescent Idiopathic Scoliosis” yaitu kondisi ketika remaja tidak mengetahui adanya permasalahan pada tulang belakangnya karena tidak terdapat keluhan yang jelas pada tahap awal. Karena itu, skoliosis tidak selalu mudah dikenali bila hanya dari rasa sakit, karena rasa sakit dapat disebabkan oleh banyak hal. Faktor lain seperti ketidakseimbangan bahu, perubahan posisi tubuh, atau bentuk punggung yang tampak berbeda ketika tubuh membungkuk atau Adam’s Forward Bend Test menjadi hal yang sangat perlu diperhatikan.
Selain dengan edukasi mengenai skoliosis dan low back pain, santri juga diberikan screening kesehatan berupa pemeriksaan postur dengan Adam’s Forward Bend Test dan skoliometer. Melalui pendekatan ini, kegiatan tidak hanya sekedar penyuluhan satu arah karena santri mendapatkan kesempatan untuk memahami kondisi tubuhnya sendiri sekaligus mengetahui langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan tubuhnya terutama mengenai kesehatan tulang belakang.
baca juga: Beberapa Gejala dari Penyakit Skoliosis yang Perlu Kamu Ketahui
HIMAFIS UI Edukasi Skoliosis pada Remaja, Ajak Santri Lebih Peduli pada Kesehatan Tulang Belakang
Kegiatan yang dilaksanakan oleh HIMAFIS UI juga menekankan bahwa upaya menjaga postur dapat dimulai dengan kebiasaan sederhana, seperti duduk dengan posisi yang baik ketika belajar maupun mengaji dan melakukan peregangan di sela aktivitas sebagai beberapa langkah yang dapat diterapkan tanpa memerlukan peralatan khusus.
Para santri sebagai sasaran kegiatan menyampaikan bahwa kegiatan ini memberikan edukasi yang bermanfaat dan menambah pengetahuan mereka dengan cara penyampaian yang menarik dan mudah dipahami. Adanya sesi interaktif dan ice breaking juga turut membuat suasana kegiatan menjadi lebih menyenangkan sehingga para santri tetap antusias untuk mengikuti rangkaian acara. Pengurus Pondok Pesantren Nurul Hidayah Al-Bina turut menyampaikan bahwa kegiatan ini memberikan manfaat yang positif dan diharapkan dapat berkelanjutan sebagai bentuk edukasi yang mendukung kesehatan santri.
Melalui kegiatan ini, edukasi diharapkan tidak berhenti ketika acara selesai. Materi juga dicetak dalam bentuk buku saku dan poster yang diberikan kepada pihak pondok pesantren agar dapat digunakan serta dipelajari kembali oleh santri. Bagi HIMAFIS UI, pengenalan mengenai kesehatan tulang belakang sejak usia remaja menjadi salah satu langkah preventif untuk membangun kesadaran bahwa postur tubuh perlu dijaga dalam aktivitas sehari-hari. Dengan itu, para santri diharapkan dapat tumbuh dengan memerhatikan kesehatan tubuhnya sendiri.[ind]





