KEMENTERIAN Agama (Kemenag) mendorong warisan jalur maritim yang selama berabad-abad menghubungkan Nusantara dengan berbagai kawasan dunia ditransformasikan menjadi jejaring ilmu, kebudayaan, dan perdamaian antarbangsa.
Pesan tersebut disampaikan Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama, Muchlis M. Hanafi, saat mewakili Wakil Menteri Agama, Romo H. R. Muhammad Syafi’i, dalam Seminar Internasional bertema “Maritime Silk Road and Nusantara Islamic Civilisation: Connecting Minangkabau, Makassar, Malaysia, Singapore, China, Sri Lanka, South Africa and the Legacy of Syekh Yusuf Al-Makassari”, yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Rangkayo Minang (RMI) Indonesia, Rabu (26/8/2026), di Gedung Balai Kota Blok G DKI Jakarta.
Menurut Muchlis, bagi bangsa Indonesia laut tidak pernah semata-mata menjadi pemisah. Laut justru menjadi penghubung antarmanusia dan peradaban.
Jauh sebelum istilah globalisasi dikenal, samudra telah mempertemukan manusia, barang, bahasa, pengetahuan, agama, dan kebudayaan.
Muchlis mencontohkan perjalanan Ibnu Batutah, ulama dan pengembara asal Tangier, Maroko, yang pada abad ke-14 mencapai Samudra Pasai.
Baca juga: Kemenag Gelar Gema Selawat Kebangsaan dari Berbagai Penjuru Indonesia
Kemenag Dorong Warisan Jalur Maritim Nusantara dengan Kawasan Dunia
Catatan perjalanannya menjadi salah satu kesaksian penting mengenai kehidupan sosial-keagamaan di Nusantara pada masa itu.
Menurut Muchlis, sejarah perkembangan Islam di Nusantara memperlihatkan karakter penting berupa perjumpaan sosial dan kultural.
Para pedagang membawa komoditas, sementara para ulama membawa sesuatu yang bertahan jauh lebih lama: ilmu, nilai, akhlak, dan jaringan kemanusiaan.
Karena itu, sejarah Islam Nusantara tidak dapat dipahami hanya dengan menggunakan batas-batas negara modern.
Minangkabau, Makassar, Aceh, Banten, Jawa dan kawasan Melayu terhubung dengan pusat-pusat keilmuan di Makkah, Madinah, India, Sri Lanka, hingga Afrika melalui jaringan intelektual dan spiritual.
Syekh Yusuf al-Makassari menjadi salah satu representasi kuat dari jejaring tersebut. Ulama asal Sulawesi Selatan itu melakukan perjalanan intelektual dan spiritual melintasi berbagai pusat keilmuan Islam, berkiprah di Banten, kemudian mengalami pengasingan hingga Sri Lanka dan Afrika Selatan.
Jejak konektivitas keilmuan tersebut terus berlanjut pada masa-masa berikutnya. Dari Minangkabau, misalnya, lahir Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, ulama besar yang menjadi imam dan pengajar di Masjidilharam serta salah satu otoritas penting mazhab Syafi’i di Makkah pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.
Syekh Ahmad Khatib kemudian menjadi guru bagi banyak ulama Nusantara yang belajar di Makkah. Di antara murid-muridnya adalah tokoh-tokoh yang kelak memberi pengaruh besar terhadap perkembangan Islam Indonesia, termasuk KH Hasyim Asy’ari.
Fenomena tersebut, lanjut Muchlis, mendapat landasan akademik yang kuat antara lain melalui penelitian cendekiawan asal Minangkabau, Prof. Azyumardi Azra, dalam karya monumentalnya Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII.
Penelitian Azra memperlihatkan bagaimana ulama Nusantara terhubung dengan jaringan keilmuan di Timur Tengah, khususnya Haramain, serta bagaimana gagasan dan pembaruan keagamaan ditransmisikan melalui hubungan guru-murid dan jaringan intelektual lintas kawasan.
Kajian tersebut semakin menegaskan bahwa sejarah Islam Nusantara sejak berabad-abad lalu merupakan bagian dari dinamika intelektual dunia Islam.
Muchlis menjelaskan, konektivitas tersebut memiliki landasan kuat dalam Al-Qur’an. QS. al-Hujurat ayat 13 menyebut keberagaman bangsa dan suku sebagai jalan untuk *li-ta‘ārafū* atau saling mengenal.
Menurutnya, ta‘āruf tidak cukup dimaknai sekadar mengetahui keberadaan pihak lain, tetapi juga membangun pengenalan, pemahaman, penghormatan, dan kerja sama timbal balik.
“Dengan perspektif ini, Maritime Silk Road tidak hanya kita baca sebagai konektivitas geografis. Ia merupakan ruang ta‘āruf antarperadaban. Perdagangan melahirkan pertukaran budaya, pertukaran budaya melahirkan pertukaran pengetahuan, dan pertukaran pengetahuan ikut membangun peradaban,” ujarnya.
Dalam konteks Minangkabau, Muchlis menyebut falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah sebagai salah satu contoh bagaimana agama dan budaya dapat hadir secara saling menguatkan.
“Indonesia tidak perlu memilih antara menjadi religius atau menjadi berbudaya. Salah satu kekuatan Indonesia justru terletak pada kemampuannya menghadirkan keberagamaan yang berakar pada kebudayaan masyarakat,” katanya.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Untuk memastikan warisan tersebut tetap relevan, Muchlis menawarkan tiga agenda transformasi.
Pertama, dari konektivitas maritim menuju konektivitas intelektual. Jika dahulu kapal menghubungkan Makassar, Minangkabau, Melayu, Sri Lanka, Tiongkok, dan Afrika, kini perguruan tinggi, pesantren, pusat riset, dan teknologi digital perlu membangun kembali konektivitas itu melalui riset bersama, pertukaran akademik, digitalisasi manuskrip, dan kajian jaringan ulama.
Kedua, dari memori sejarah menuju pendidikan generasi muda. Generasi muda tidak cukup hanya diberi tahu bahwa mereka memiliki sejarah besar, tetapi harus dilibatkan untuk menemukan kembali, memahami, dan mengembangkan warisan tersebut.
Ketiga, dari jaringan ulama menuju jaringan perdamaian. Jejaring keilmuan dan spiritualitas yang dahulu menghubungkan berbagai masyarakat perlu ditransformasikan menjadi kekuatan untuk menjawab konflik, intoleransi, ekstremisme, krisis kemanusiaan, dan keterbelahan sosial.
Muchlis menambahkan, pengalaman panjang Indonesia dalam mengelola keragaman agama, etnis, bahasa, adat, dan budaya merupakan modal penting bagi diplomasi agama dan kebudayaan di tingkat global.
Menurutnya, Indonesia tidak semestinya hanya menjadi konsumen gagasan perdamaian, tetapi harus mampu menjadi produsen gagasan dan praktik perdamaian dunia.
Karena itu, jejaring historis Minangkabau, Makassar, Malaysia, Singapura, Tiongkok, Sri Lanka hingga Afrika Selatan perlu dihidupkan kembali, bukan sebagai romantisme sejarah, melainkan sebagai fondasi kerja sama peradaban masa depan.
Muchlis berharap seminar internasional tersebut tidak berhenti pada upaya mengenang kejayaan jalur maritim masa lalu, tetapi menjadi titik awal penguatan kolaborasi lintas negara dalam bidang keilmuan, kebudayaan, keagamaan, dan perdamaian. [Din]




