AIR itu tidak ingin diam. Ia ingin terus mengalir ke tempat yang lebih rendah, bagaimana pun caranya.
Air datang dari atas: hujan. Sumbernya jernih dan bersih. Ia diturunkan untuk memberikan kehidupan pada ‘kalangan’ di bawah.
Ia muncul dari saringan alami yang ada pada akar-akar pohon di kawasan yang tinggi. Saringan alami itu memunculkan genangan mata air. Dari mata air, air membentuk aliran dan terus bergerak ke tempat yang rendah.
Terbentuklah sungai-sungai kecil yang jernih. Mereka terus mengalir dan membentuk sungai besar.
Meskipun di jalur yang ia lewati melalui sungai besar itu banyak kotoran yang ikut, gerakannya menjadikan air tersaring alami. Sejatinya ia tetap bersih meskipun warnanya sudah berubah.
Semakin jauh ia mengalir, semakin banyak maslahat yang diterima kehidupan sekitar. Ada hewan, tumbuhan, juga manusia.
Di masa lalu, kumpulan manusia hidup selalu di tempat-tempat yang dilalui aliran air. Kumpulan itu membentuk desa, dan akhirnya menjadi kota.
Jangan coba-coba untuk membendung air secara serampangan, karena ia akan mencari cara untuk bisa terus mengalir. Dengan caranya sendiri.
Jangan pula menelantarkan aliran air dengan merusak pohon-pohon yang setia menyaringnya. Karena, hal itu bisa memunculkan malapetaka.
Itulah dinamika alam yang dilakoni oleh tokoh kehidupan yang bernama air. Tokoh yang bisa menjadi teladan bisu untuk kita.
**
Salah satu yang dimiliki alam, tapi jarang kita miliki adalah ketulusan dalam bergerak, beramal, dan memberikan manfaat untuk orang banyak.
Tanpa ketulusan, hujan akan pilih-pilih tempat untuk turun. Tanpa ketulusan, air akan mengalir ke atas karena dengan begitulah kebaikannya akan dilihat banyak orang.
Belajarlah dari aliran air: tulus, istiqamah, sabar, dan gigih. Teruslah alirkan kebaikan, siapa pun yang akan mengambil manfaatnya. [Mh]





