DI ERA media sosial, banyak orang berlomba-lomba menghadirkan rumah yang terlihat indah. Desain minimalis, interior estetik, perabot modern, hingga sudut-sudut rumah yang fotogenik sering menjadi impian banyak keluarga. Tidak sedikit pula yang rela menghabiskan waktu dan biaya agar rumahnya tampak menarik untuk dibagikan di media sosial atau menjadi inspirasi bagi orang lain.
Tidak ada yang salah dengan memiliki rumah yang nyaman dan sedap dipandang. Islam pun mengajarkan umatnya untuk mencintai kebersihan dan keindahan. Namun, ada satu hal yang sering luput dari perhatian. Ketika terlalu sibuk mempercantik tampilan rumah, jangan sampai kita lupa membangun suasana yang menjadikan rumah sebagai tempat paling menenangkan bagi seluruh anggota keluarga.
Baca Juga: Tsabit bin Dahdah, Sahabat yang Menukar Kebun Terbaiknya dengan Balasan Surga
Membangun Keluarga yang Tak Hanya Indah Dipandang, tetapi Juga Menenangkan Jiwa
Rumah sejatinya bukan hanya sekadar bangunan yang megah atau penuh dekorasi mahal. Rumah adalah tempat pulang, tempat hati menemukan ketenangan, dan tempat setiap anggota keluarga saling menguatkan. Sebagus apa pun desain rumah, jika di dalamnya dipenuhi pertengkaran, kata-kata kasar, atau hubungan yang renggang, maka rumah akan kehilangan makna sejatinya.
Suasana rumah yang menyerupai surga tidak dibangun dengan cat dinding yang mewah atau furnitur yang mahal. Ia dibangun melalui akhlak yang baik, komunikasi yang lembut, serta kehadiran nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Rumah menjadi tempat yang dirindukan ketika penghuninya saling menghormati, saling memaafkan, dan saling membantu dalam kebaikan.
Rasulullah SAW memberikan teladan bagaimana memperlakukan keluarga dengan penuh kasih sayang. Beliau dikenal sebagai sosok yang lembut kepada istri-istrinya, membantu pekerjaan rumah, dan selalu memberikan perhatian kepada keluarganya. Keteladanan inilah yang seharusnya menjadi inspirasi dalam membangun rumah tangga, bukan sekadar mengejar pengakuan manusia atas kemewahan rumah yang dimiliki.
Visi utama sebuah keluarga juga perlu dibangun sejak awal. Suami dan istri hendaknya memiliki tujuan yang sama, yaitu menjadikan rumah sebagai tempat bertumbuhnya iman, akhlak, dan cinta kepada Allah SWT. Anak-anak tidak hanya dibesarkan dengan fasilitas terbaik, tetapi juga dibimbing agar mengenal Al-Qur’an, terbiasa beribadah, serta memiliki karakter yang mulia.
Suasana rumah yang damai juga lahir dari kebiasaan sederhana, seperti membiasakan mengucapkan salam saat masuk rumah, melaksanakan salat berjamaah jika memungkinkan, membaca Al-Qur’an bersama, berdiskusi dengan penuh adab, hingga menyediakan waktu berkualitas tanpa gangguan gawai. Hal-hal sederhana seperti ini justru menjadi pondasi yang mempererat hubungan antarkeluarga.
Di sisi lain, rumah yang dipenuhi rasa syukur akan terasa lebih lapang. Tidak semua keluarga memiliki rumah besar atau mewah. Namun, banyak keluarga yang hidup sederhana justru merasakan kebahagiaan karena dipenuhi rasa saling mencintai dan saling mendukung. Kebahagiaan seperti inilah yang tidak bisa dibeli dengan materi.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Pada akhirnya, rumah terbaik bukanlah rumah yang paling sering muncul di media sosial atau menjadi tren desain terbaru. Rumah terbaik adalah rumah yang menghadirkan ketenangan, menguatkan iman, dan membuat setiap penghuninya merasa aman untuk pulang. Ketika suasana rumah dipenuhi kasih sayang, ibadah, dan akhlak yang baik, maka rumah itu akan menjadi tempat yang membawa keberkahan, sekaligus menjadi jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. [DW]
Sumber: Ustadz Bendri Jaisyurrahman





