UMAT itu haus belaian bijak dari para pemimpinnya. Dan pemimpin haus dukungan umatnya. Jangan hubungan timbal balik itu hanya untuk pencitraan.
Di sebuah negeri Konoha, seorang pemimpin tengah mengunjungi Kejaksaan Agung. Sejumlah staf ikut serta dalam rombongan itu.
Kali ini, target kunjungan itu tidak di tempat-tempat biasa seperti di dalam ruangan pimpinan. Melainkan di area kantin kejaksaan.
Sang pemimpin melemparkan senyuman ke orang-orang yang tengah makan siang. Entah kenapa ia tertarik dengan seorang pedagang gorengan di pojok kantin.
“Sudah berapa lama, Pak, dagang di sini?” tanya sang pemimpin. Para staf di sekelilingnya memperhatikan dan menyimak suasana tanya jawab itu.
“Dua puluh lima tahun lebih kali, Pak! Sudah lama sekali!” jawab pedagang gorengan, begitu polosnya.
Sang pemimpin itu mengangguk-angguk. “Hebat-hebat. Bapak begitu tekun mencari nafkah yang halal,” ujarnya.
“Alhamdulillah, Pak!” sahut si pedagang.
“Anak-anak Bapak pada kerja di mana?” tanya si pemimpin, tiba-tiba.
“Oh, anak pertama saya di mabes polisi, Pak. Kalau yang anak yang kedua di mabes tentara. Dan yang ketiga di mahkamah agung,” jawab pedagang gorengan agak kikuk.
“Waduh, ini baru hebat!” sahut sang pemimpin begitu antusias. Sang pedagangan gorengan tersenyum malu.
“Coba perhatikan semuanya, ya. Contoh bapak pedagangan gorengan ini. Meski bekerja ala kadarnya, karena halal, anak-anaknya bisa menjadi orang sukses!” ucap sang pemimpin sambil pandangannya tertuju ke para staf di belakangnya.
“Pak, bisa dijelaskan ke kami semua tentang posisi kerja anak-anak bapak di instansi-instansi itu?” tanya sang pemimpin begitu tertarik.
“Oh itu. Ya sama, Pak, seperti saya. Dagang gorengan!” jawabnya spontan.
**
Kadang ada kesenjangan antara yang ‘di kepala’ umat dengan yang ‘di kepala’ pemimpin. Umat itu jujur, polos, apa adanya. Jangankan dibantu, disapa saja mereka sudah bahagia.
Berbeda dengan umumnya para pemimpin. Mereka mendekati umat bukan untuk menyapa apalagi membantu. Hanya sekadar pencitraan.
Jangan manipulasi kepolosan umat, serendah apa pun posisi mereka. Karena hal itu bisa menjadi bumerang yang bisa menjatuhkan sang pemimpin. [Mh]




