KOMUNIKASI itu objeknya bisa dengan siapa saja. Ada yang dengan nalar tinggi dan biasa. Ada juga yang di bawahnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkomunikasi dengan siapa saja: kalangan atas hingga bawah.
Di masyarakat Arab saat itu, ada suku pedalaman yang tingkat nalar rata-ratanya begitu rendah. Tapi, kesetiaan dan keberaniannya luar biasa. Suku itu biasa disebut Suku Badui.
Mereka tidak menetap di satu tempat. Tapi, berpindah-pindah sesuai dengan kebutuhan. Hal ini karena umumnya mereka menggembala ternak seperti kambing dan unta. Kalau di satu tempat, rumput hijaunya habis, mereka akan pindah lagi ke tempat baru.
Suatu kali, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berbicara, ada seorang badui yang memotong: ya Rasulullah, kapan Hari Kiamat?
Awalnya, Rasulullah masih fokus dengan pembicaraannya. Tapi, orang badui itu terus memotonng: kapan Hari Kiamat?
Akhirnya Rasulullah memberikan perhatian khusus kepada badui itu. Nabi tidak menjawab kapan Hari Kiamat, tapi menanyakan balik dengan memberikan bobot dari pertanyaan si badui itu.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Memangnya, apa yang sudah Anda siapkan?”
Badui itu mengatakan, “Aku tidak (mampu) menyiapkannya dengan shalat yang banyak, puasa yang banyak, dan sedekah yang banyak. Tapi, aku menyiapkannya dengan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun menyambut baik jawaban si badui itu dengan mengatakan, “Anta ma’a man ahbabta.” Anda akan (dibangkitkan) dengan orang yang Anda cintai.
Di masa Khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, ada seorang badui yang masuk Islam. Ia bertanya tentang shalat-shalat fardu dan jumlah rakaatnya.
Khalifah Umar pun menjelaskan: Zuhur empat rakaat, Ashar empat rakaat, Magrib tiga rakaat, Isya empat rakaat, dan Subuh dua rakaat.
Si badui memang menyimak. Tapi, ia sulit menghafal antara nama shalat dan rakaatnya. Berkali-kali ia mengulang apa yang disampaikan khalifah, berkali-kali itu pula antara nama shalat dan rakaatnya tertukar.
Khalifah Umar berpikir sejenak: bagaimana caranya agar mudah dihafal oleh si badui. Akhirnya, ia membuat syair yang isinya kira-kira: shalat fardu empat rakaat, berikutnya empat rakaat, berikutnya tiga rakaat, dan malamnya empat rakaat. Subuh di waktu fajar dua rakaat.
Ternyata, dengan cara syair inilah, si badui bisa ingat dengan mudah dan mampu melaksanakan shalat fardu dengan jumlah rakaat yang benar.
**
Salah satu kekeliruan dalam dakwah adalah menganggap bahwa semua audiens punya nalar yang sama. Inilah kenapa pesan dakwah hanya bisa diterima oleh kelompok tertentu dan dianggap tidak menarik oleh kelompok yang lain.
Berbicaralah dengan bahasa kaum. Ada di antara mereka yang serius, ada yang dengan bahasa akrab, ada pula dengan suasana santai.
Apalah arti isi pesan yang bagus kalau tidak bisa dipahami dengan baik. [Mh]


