DI BALIK perjalanan dakwah Rasulullah, terdapat banyak sosok perempuan mulia yang turut menyimpan kisah penuh hikmah. Salah satunya adalah Fakhitah binti Abi Thalib, yang lebih dikenal dengan kunyahnya, Ummu Hani’. Meski namanya tidak sepopuler Aisyah atau Khadijah, jejak kehidupannya tetap dikenang karena kedekatannya dengan Rasulullah dan beberapa peristiwa penting yang menjadi pelajaran bagi umat Islam hingga hari ini.
Fakhitah merupakan putri Abu Thalib, paman sekaligus pelindung Rasulullah semasa di Makkah. Ibunya adalah Fatimah binti Asad, seorang perempuan yang juga sangat dihormati dalam sejarah Islam. Dengan demikian, Fakhitah adalah sepupu Rasulullah sekaligus saudara kandung Ali bin Abi Thalib.
Sebelum datangnya Islam, Fakhitah menikah dengan Hubairah bin Abi Wahb Al-Makhzumi. Dari pernikahan tersebut, ia dikaruniai beberapa orang anak. Ketika cahaya Islam mulai menyebar, suaminya tetap memilih berada di pihak kaum Quraisy. Sementara itu, Fakhitah akhirnya memeluk Islam pada saat Fathu Makkah atau penaklukan Kota Makkah, sebuah momentum yang mengubah jalan hidupnya.
Baca Juga: Simak Kisah Dhuba’ah binti Zubair yang Mendapat Kemudahan dalam Beribadah
Fakhitah binti Abi Thalib Seorang Muslimah Mulia yang Mengajarkan Kemudahan dalam Beribadah
Salah satu kisah paling terkenal dari Ummu Hani’ terjadi pada hari pembebasan Makkah. Saat itu, ia memberikan perlindungan kepada salah seorang kerabatnya yang masih musyrik karena khawatir akan dibunuh. Namun, Ali bin Abi Thalib berniat menindak orang tersebut. Dalam kebingungan, Ummu Hani’ mendatangi Rasulullah untuk meminta keputusan.
Rasulullah kemudian bersabda, “Kami melindungi orang yang engkau lindungi, wahai Ummu Hani’.” Perkataan Nabi ini menunjukkan betapa Islam menghargai amanah dan perlindungan yang diberikan seorang muslim, bahkan apabila yang memberikannya adalah seorang perempuan. Sikap Rasulullah juga memperlihatkan penghormatan beliau terhadap keputusan Ummu Hani’.
Peristiwa lain yang membuat nama Ummu Hani’ dikenal luas adalah ketika Rasulullah singgah di rumahnya pada hari Fathu Makkah. Di rumah itulah Nabi melaksanakan shalat Dhuha sebanyak delapan rakaat. Riwayat tersebut kemudian menjadi salah satu dalil yang digunakan para ulama mengenai pelaksanaan shalat Dhuha. Hadis itu diriwayatkan langsung oleh Ummu Hani’ sehingga beliau termasuk salah satu shahabiyah yang meriwayatkan hadis Nabi. Tercatat sekitar 46 hadis berasal dari jalur periwayatannya.
Selain dikenal sebagai perawi hadis, Ummu Hani’ juga menunjukkan akhlak yang lembut dan penuh kebijaksanaan. Ia tidak hanya dekat dengan Rasulullah karena hubungan keluarga, tetapi juga karena keimanan dan ketulusannya menerima ajaran Islam. Dalam berbagai riwayat, beliau dikenal sebagai sosok yang menjaga amanah serta tidak ragu bertanya kepada Rasulullah ketika menghadapi persoalan agama.
Kehidupan Ummu Hani’ mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak hanya diukur dari kedudukan keluarganya, melainkan dari iman dan amal salehnya. Ia adalah contoh muslimah yang mampu bersikap bijaksana di tengah situasi sulit, berani mengambil keputusan yang benar, sekaligus tetap rendah hati.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Hingga kini, nama Fakhitah binti Abi Thalib tetap dikenang dalam kitab-kitab sirah dan hadis. Kisahnya mengingatkan umat Islam bahwa perempuan memiliki peran penting dalam menjaga ajaran agama, meriwayatkan ilmu, serta menjadi teladan dalam keberanian, kasih sayang, dan keteguhan iman. Melalui perjalanan hidupnya, kita belajar bahwa setiap amal baik yang dilakukan dengan ikhlas akan meninggalkan jejak yang bermanfaat, bahkan hingga lintas generasi. [DW]
Sumber: Ensiklopedia Nabi Muhammad SAW di antara Para Shahabiyah. Ichwan Fauzi. Lentera Abadi: 2020.





