MUKMIN itu saling bersaudara. Salah satu ciri persaudaraan itu adalah saling mengalah untuk kepentingan saudaranya.
Ada sebuah musibah besar yang dialami Khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Di saat mengimami shalat Subuh, seorang musuh menyelinap dan menusukkan pisau dari arah belakangnya. Sang pembunuh berhasil ditangkap.
Tubuh Khalifah pun mengalami luka parah. Ia dibawa ke rumahnya untuk menjalani pengobatan. Selama tiga Khalifah Umar menjalani perawatan. Tapi takdir berkehendak lain. Beliau pun wafat setelah memberikan pesan-pesan untuk dilakukan pemilihan khalifah baru.
Ingin Dimakamkan di Rumah Aisyah rahdiyallahu ‘anha
Sebelum wafat, Khalifah Umar meminta bantuan putranya, Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu, untuk menemui Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha.
“Pergilah dan temui Ummul Mukminin, Aisyah, sampaikan salamku untuknya. Katakan dari Umar, jangan bilang dari Amirul Mukminin.
“Sampaikan pula bahwa Umar memohon izin untuk dimakamkan di dekat dua sahabatnya,” begitu kira-kira isi pesan Khalifah Umar.
Abdullah pun segera berangkat menemui Sayyidah Aisyah di rumahnya. Setelah bertemu, Abdullah mendapati Sayyidah Aisyah sedang menangis. Ia pun menyampaikan pesan ayahnya apa adanya.
Sayyidah Aisyah menjawab, “Sebenarnya, aku pun berencana untuk bisa dimakamkan di situ. Tapi untuk Umar, aku mengalah.”
Abdullah bin Umar kembali pulang dengan hati gembira. Dan di rumah, Khalifah Umar sudah menanti begitu gusarnya. Manakala ia mendapatkan ‘kabar gembira’ itu, Khalifah Umar pun begitu bahagia.
“Alhamdulillah, tak ada yang lebih penting bagiku selain ini. Setelah aku wafat, bawalah jenazahku ke sana. Mintalah izin kepadanya. Jika ia izinkan, makamkan aku di sana. Jika tidak diizinkan, makamkan aku di pemakaman kaum muslimin,” ucap Khalifah Umar.
Setelah Khalifah Umar wafat, persis seperti yang dipesankan, Abdullah meminta izin kepada Sayyidah Aisyah untuk memakamkan ayahandanya. Dan Sayyidah Aisyah mengizinkannya masuk.
Seperti diketahui kemudian, Sayyidah Aisyah akhirnya dimakamkan di taman pemakaman Janantul Baqi bersama dengan istri-istri Rasulullah dan para sahabat lainnya.
**
Di antara keindahan Islam adalah saling mengalah untuk kepentingan saudara muslim lainnya. Meskipun secara subjektif, ia sangat ingin memperolehnya.
Cintailah saudara kita sebagaimana kita mencintai diri sendiri. Berikanlah yang terbaik untuk saudara muslim lainnya, meskipun kita sangat menginginkan. [Mh]





