KEADAAN hidup melalui dua warna: susah dan senang. Tak seorang pun bisa menentukan keadaan susah senangnya esok hari.
Tidak semua sahabat Nabi hidup senang setelah masa hijrah. Mereka tidak lagi tinggal di kampung halaman. Tidak lagi memiliki pekerjaan seperti sebelumnya. Bahkan masih banyak sanak keluarga yang tetap tinggal di Mekah alias berpisah.
Kekuatan iman dan tekad perjuangan itulah yang terus menggelorakan semangat hidup mereka.
Di antara mereka ada pebisnis kawakan seperti Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu. Ketika berhijrah, tidak banyak harta yang bisa ia bawa. Karena masa itu, semua aset masih ‘manual’, belum digital seperti saat ini.
Ketika tinggal di Madinah, Abdurrahman bin Auf memulai bisnis dari awal. Tantangannya: Madinah tidak seperti Mekah yang kota perdagangan. Di Madinah, lebih banyak sektor pertanian daripada pasar. Kalau pun ada, semuanya dikuasai Yahudi.
Keadaan berat itu bukan hanya dialami pebisnis seperti Abdurrahman bin Auf. Yang lain pun tidak jauh beda. Di antaranya, Abu Bakar Ash-Shiddiq, Saad bin Abi Waqash, Usman bin Affan radhiyallahu ‘anhum, dan lainnya. Mereka memulai dari awal.
Namun begitu, nasib mereka masih jauh lebih baik. Karena banyak para sahabat miskin yang meninggalkan kampung halaman mereka nun jauh di sana demi untuk bisa hijrah ke Madinah. Meskipun miskin, di kampung halaman masih ada rumah kecil, pekerjaan, dan lainnya.
Di antara mereka ada Abu Hurairah, Abu Dzar alghifari radhiyallahu ‘anhum, dan lainnya. Mereka tinggal di Madinah di emperan masjid Nabawi yang beratap dan berdinding tenda-tenda seadanya.
Masih banyak lagi dari kalangan akhwat atau perempuan. Ada di antara mereka yang pisah dari keluarga besar seperti putri dari Abu Sofyan: Ummu Habibah dan putri Abu Lahab: Durrah radhiyallahu ‘anhuma. Tak ada sanak dan keluarga di tempat yang baru.
Selain itu semua, di Madinah memang tidak ada kasus penyiksaan dan penghinaan seperti di Mekah. Tapi, di tempat baru itu, mereka diperangi oleh banyak kalangan: musyrik Quraisy, munafik Madinah, dan suku-suku Yahudi.
Namun, tak seorang pun dari mereka yang menyesal telah berhijrah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Tak seorang pun dari mereka yang ingin kembali ke Mekah dan meninggalkan Madinah.
Mereka tak pernah menyalahkan keadaan. Justru, mereka menjadikan himpitan keadaan itu sebagai tantangan perjuangan. Hingga akhirnya, Allah menganugerahkan mereka kehidupan yang makmur dan sejahtera.
**
Kalimat kuncinya itu: jangan pernah menyalahkan keadaan. Sebaliknya, jadikan himpitan keadaan sebagai tantangan perjuangan hidup.
Dan fakta membuktikan. Bahwa, komunitas warga yang sukses di negeri ini adalah mereka yang berani mengambil tantangan hidup. Antara lain, Suku Minang, Suku Bugis atau Makasar, Suku Jawa, dan Suku Madura. Mereka seperti kaum Muhajirin yang tinggal jauh dari kampung halaman.
Jangan pernah menyalahkan keadaan. Karena problem hidup tak akan pernah usai hingga datangnya ajal kematian. Merajuk dengan keadaan justru hanya akan melemahkan. [Mh]


