SETIAP manusia pasti pernah merasakan kehampaan. Ada saat ketika semua kebutuhan dunia terasa telah terpenuhi, tetapi hati tetap gelisah. Harta bertambah, pekerjaan berjalan baik, dan hubungan dengan orang lain tampak harmonis, namun ada ruang kosong yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Perasaan inilah yang pernah dijelaskan oleh ulama besar, Ibnul Qayyim al-Jauziyah.
Beliau menggambarkan bahwa di dalam hati manusia terdapat sebuah kekosongan yang tidak akan pernah benar-benar terisi kecuali dengan menghadap kepada Allah. Kekosongan itu bukan karena kurangnya materi, melainkan karena hati diciptakan untuk mengenal, mencintai, dan mengingat Sang Pencipta.
Baca Juga: Cara Memilih Buah Durian yang Tepat dan Bagus
Celah Kosong di Dalam Hati Hanya Bisa Diisi dengan Menghadap kepada Allah
Banyak orang mencoba mengisi kekosongan tersebut dengan berbagai cara. Ada yang mengejar jabatan, mengumpulkan kekayaan, mencari pengakuan dari manusia, atau terus-menerus mencari hiburan. Semua itu mungkin mampu memberikan rasa senang sesaat, tetapi tidak selalu menghadirkan ketenangan yang bertahan lama. Setelah kegembiraan itu berlalu, hati kembali merasa hampa.
Allah telah mengingatkan dalam Al-Qur’an bahwa hanya dengan mengingat-Nya hati menjadi tenteram. Ayat ini menunjukkan bahwa ketenangan sejati bukan berasal dari keadaan di luar diri, melainkan dari hubungan seorang hamba dengan Rabbnya.
Menghadap kepada Allah bukan hanya berarti memperbanyak ibadah ritual, tetapi juga menghadirkan hati ketika beribadah. Shalat yang dilakukan dengan khusyuk, doa yang dipanjatkan dengan penuh harap, membaca Al-Qur’an sambil merenungi maknanya, hingga berdzikir di tengah kesibukan merupakan cara-cara yang dapat menguatkan ikatan seorang hamba dengan Tuhannya.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Saat seseorang semakin dekat kepada Allah, ia akan belajar menerima takdir dengan lapang dada. Ia tidak lagi mudah hancur ketika kehilangan sesuatu, karena ia memahami bahwa semua yang dimiliki hanyalah titipan. Ia juga tidak mudah sombong ketika memperoleh nikmat, sebab ia sadar semua berasal dari karunia Allah.
Kekosongan hati sering kali muncul ketika manusia terlalu menggantungkan kebahagiaannya kepada makhluk. Ketika harapan tidak terpenuhi, hati pun terluka. Sebaliknya, jika hati bergantung kepada Allah, maka harapan tidak akan mudah runtuh. Seorang mukmin tetap berusaha sebaik mungkin, tetapi hasil akhirnya ia serahkan kepada kehendak-Nya.
Hal ini tidak berarti seseorang harus meninggalkan urusan dunia. Islam justru mengajarkan keseimbangan. Bekerja, belajar, membangun keluarga, dan mencari rezeki adalah bagian dari ibadah apabila diniatkan karena Allah. Dengan demikian, aktivitas dunia menjadi jalan untuk semakin mendekat kepada-Nya, bukan menjauh dari-Nya.
Jika hari ini hati terasa kosong, jangan terburu-buru mencari pelarian yang hanya memberikan ketenangan sementara. Cobalah meluangkan waktu untuk memperbaiki hubungan dengan Allah. Perbanyak istighfar, hadirkan doa di setiap kesempatan, dan jadikan Al-Qur’an sebagai teman perjalanan hidup.
Pada akhirnya, hati manusia memang memiliki ruang yang tidak bisa diisi oleh apa pun selain kedekatan dengan Allah. Semakin seseorang mengenal Rabbnya, semakin ia menemukan ketenangan yang selama ini dicari. Sebab kebahagiaan sejati bukanlah ketika semua keinginan terpenuhi, melainkan ketika hati merasa cukup karena selalu bersama Allah. [DW]
Sumber: Instagram dr.Zaidul Akbar




