REZEKI itu jaminan Allah untuk setiap makhluk. Pintunya ada dua: dari langit dan apa yang telah Allah janjikan.
Dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 22, Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu.”
Kalau pintu yang kedua: apa yang dijanjikan Allah, para ulama menafsirkannya hampir sama. Yaitu, apa yang Allah takdirkan sebelum kita diciptakan.
Sifatnya begitu irasional, atau sulit dinalarkan. Misalnya, berapa umur kita, akhir hidup kita, dan rezeki-rezeki lain yang mungkin tidak kita pikirkan karena biasa. Seperti, sinar matahari, jumlah air dan makanan yang masuk, dengan keluarga mana kita hidup, dan lainnya.
Ada juga pintu yang pertama: di langit. Tentang ini, ulama menafsirkannya bermacam-macam. Ada yang menafsirkan hujan, matahari, angin, dan posisi rezeki yang disimpan di langit.
Pendek kata, umumnya ulama menafsirkan yang pertama ini adalah ikhtiar kita dalam meraih rezeki yang disimbolkan dengan hujan, matahari, dan angin. Semua itu harus disambut dengan kerja keras agar bisa menghasilkan tanaman, dan lainnya.
Namun, di era abad digital ini, posisi langit menjadi sangat sentral dan menentukan. Misalnya, satelit, transaksi online, sistem keuangan digital, dunia informasi, dan lainnya. Semuanya bergantung pada penguasaan langit.
Tidak heran jika seperti ada rumus: siapa yang menguasai langit, maka ia akan menguasai dunia.
Amerika memiliki 11 ribu satelit, Cina memiliki 6 ribu satelit, Inggris hampir seribu, Rusia memiliki 250 satelit, dan berada di bawahnya Jepang.
Begitu pun dalam kekuatan pertahanan negara. Di era digital ini, negara yang kuat adalah yang bisa menguasai langit lebih unggul dari lainnya.
Perkembangan tafsiran tentang langit ini tidak menafikan tafsiran dari para ulama. Tetap saja, pintu rezeki itu ada dua: ada rezeki yang harus kita ikhtiarkan, dan ada rezeki yang memang telah Allah janjikan dan terus mengalir bahkan di luar kesadaran kita.
**
Kalau diibaratkan dengan gaji, rezeki seseorang itu ada yang gaji pokok yang sudah jaminan akan didadapatkan. Dan ada pula tunjangan yang bergantung pada kinerja atau mutu kerja yang dilakukan.
Karena itu, jangan pernah putus asa dengan rezeki. Yakinlah bahwa Allah telah menjamin yang akan kita dapatkan. Plus, juga dari apa yang terus kita ikhtiarkan.
Tetaplah berbaik sangka dengan Allah dan perbanyaklah doa. Dan, jangan kendurkan ikhtiar yang bisa kita lakukan.
Setelah itu, bersyukurlah berapa pun yang kita terima. Karena di situlah letak bahagia kita. {Mh}


