AR-RABI‘ bin Ziyad berasal dari kabilah Bani Al-Harits bin Ka’ab. Ia hidup pada masa Rasulullah SAW dan kemudian menjadi salah satu tokoh penting dalam pemerintahan Islam setelah wafatnya Nabi. Meski tidak banyak riwayat yang mengisahkan kehidupannya secara rinci, namanya tercatat dalam berbagai kitab sejarah sebagai seorang sahabat yang memiliki akhlak mulia dan dedikasi tinggi dalam perjuangan Islam.
Setelah Rasulullah SAW wafat, Ar-Rabi’ turut mengambil bagian dalam berbagai ekspedisi dakwah dan pembebasan wilayah yang dipimpin kaum muslimin. Pada masa Khalifah Umar bin Khattab hingga Utsman bin Affan, ia dipercaya mengemban sejumlah amanah penting. Kepercayaan tersebut diberikan bukan karena kedudukannya, melainkan karena integritas dan sifat amanah yang dimilikinya.
Salah satu peran penting Ar-Rabi’ bin Ziyad adalah ketika diangkat menjadi gubernur di wilayah Khurasan, sebuah kawasan yang pada masa itu memiliki posisi strategis dalam pemerintahan Islam. Menjadi pemimpin di daerah yang luas tentu bukan tugas ringan. Ia harus menjaga keamanan masyarakat, menegakkan keadilan, serta memastikan dakwah Islam berjalan dengan baik.
Meski memegang jabatan tinggi, Ar-Rabi’ tidak hidup bermewah-mewahan. Ia dikenal memiliki gaya hidup yang sederhana dan menjauhi kemewahan dunia. Baginya, jabatan hanyalah amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Karena itulah, ia selalu berusaha menjalankan tugas dengan penuh kejujuran tanpa memanfaatkan kekuasaan untuk kepentingan pribadi.
Baca Juga: 6 Manfaat Air Putih Untuk Kesehatan
Ar-Rabi’ bin Ziyad Al-Haritsi, Sahabat Rasulullah yang Memilih Zuhud di Tengah Jabatan
Sifat zuhud Ar-Rabi’ bin Ziyad sering menjadi teladan bagi masyarakat di sekitarnya. Ia lebih memilih memperbanyak ibadah, memperbaiki diri, dan mendekatkan hati kepada Allah daripada larut dalam kenikmatan dunia. Bahkan dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa ia sering mengingatkan keluarganya agar tidak terlalu mencintai dunia yang bersifat sementara.
Selain dikenal sebagai pemimpin yang adil, Ar-Rabi’ juga memiliki kepedulian tinggi terhadap rakyatnya. Ia berusaha mendengar langsung kebutuhan masyarakat dan menyelesaikan persoalan dengan cara yang bijaksana. Baginya, seorang pemimpin bukanlah orang yang harus dilayani, melainkan orang yang paling bertanggung jawab terhadap kesejahteraan umat.
Salah satu pelajaran berharga dari kehidupan Ar-Rabi’ bin Ziyad adalah pentingnya menjaga hati ketika memperoleh kedudukan. Tidak sedikit orang yang berubah setelah memiliki jabatan atau kekuasaan. Namun, Ar-Rabi’ justru semakin meningkatkan ibadah dan rasa takutnya kepada Allah. Ia menyadari bahwa semakin besar amanah yang diemban, semakin besar pula pertanggungjawabannya di akhirat.
Kisah hidupnya juga mengajarkan bahwa keberhasilan seorang muslim tidak selalu diukur dari popularitas. Walaupun namanya tidak terlalu sering disebut dalam berbagai kajian sejarah Islam, amal dan pengabdiannya tetap tercatat sebagai bagian dari perjuangan generasi terbaik umat ini.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Sebagai umat Islam, mengenal sosok seperti Ar-Rabi’ bin Ziyad Al-Haritsi dapat menjadi pengingat bahwa keikhlasan sering kali bekerja dalam diam. Ia tidak mengejar pujian manusia, tetapi berusaha memperoleh ridha Allah melalui pengabdian yang tulus. Nilai-nilai inilah yang masih sangat relevan hingga sekarang, terutama bagi siapa pun yang dipercaya memegang amanah, baik di lingkungan keluarga, pekerjaan, maupun masyarakat.
Semoga kisah Ar-Rabi’ bin Ziyad Al-Haritsi menginspirasi kita untuk menjadi pribadi yang jujur, rendah hati, serta tetap menjaga ketakwaan dalam kondisi apa pun. Sebab, kemuliaan seseorang di sisi Allah bukan ditentukan oleh tingginya jabatan, melainkan oleh keimanan dan amal salehnya. [DW]
Sumber: Sirah 65 Sahabat Rasulullah. DR.Abdurrahman Ra’fat Al Basya. Darul Adab Al Islami: 2016.





