MENJADI bagian dari sandwich generation bukanlah hal yang mudah. Istilah ini merujuk pada seseorang yang harus menanggung kebutuhan dua generasi sekaligus, yaitu orang tua di satu sisi dan anak di sisi lainnya. Di tengah tuntutan biaya hidup yang terus meningkat, mereka juga tetap harus memenuhi kebutuhan pribadi, membayar cicilan, hingga mempersiapkan masa pensiun.
Tanpa perencanaan keuangan yang baik, kondisi ini dapat memicu stres bahkan menimbulkan masalah finansial dalam jangka panjang. Oleh karena itu, penting bagi sandwich generation untuk memiliki strategi mengelola keuangan agar tetap mampu memenuhi tanggung jawab tanpa mengorbankan masa depan sendiri.
Baca Juga: Cara Mengatur Waktu untuk Ibu Rumah Tangga yang Bekerja
Tips Mengatur Keuangan untuk Sandwich Generation agar Tetap Stabil dan Tenang
1. Buat Anggaran Bulanan yang Jelas
Langkah pertama adalah mengetahui ke mana saja uang mengalir setiap bulan. Catat seluruh pemasukan dan pengeluaran secara rinci, mulai dari kebutuhan rumah tangga, biaya pendidikan anak, bantuan untuk orang tua, cicilan, hingga kebutuhan pribadi.
Dengan membuat anggaran, Anda akan lebih mudah mengetahui pos mana yang masih bisa dihemat dan mana yang memang menjadi prioritas utama.
2. Bedakan Kebutuhan dan Keinginan
Salah satu tantangan terbesar dalam mengelola keuangan adalah sulit membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Misalnya, membeli ponsel baru karena mengikuti tren tentu berbeda dengan mengganti ponsel yang memang sudah rusak.
Biasakan bertanya kepada diri sendiri sebelum berbelanja, “Apakah barang ini benar-benar saya butuhkan?” Kebiasaan sederhana ini dapat membantu mengurangi pengeluaran yang tidak perlu.
3. Siapkan Dana Darurat
Dana darurat sangat penting, terutama bagi sandwich generation. Kondisi tak terduga seperti sakit, kehilangan pekerjaan, atau kebutuhan mendadak orang tua dapat terjadi kapan saja.
Idealnya, dana darurat disiapkan sebesar 6–12 kali pengeluaran bulanan, terutama jika Anda menjadi pencari nafkah utama dalam keluarga. Simpan dana tersebut di rekening yang mudah diakses tetapi tidak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
4. Jangan Lupakan Tabungan dan Investasi
Banyak orang terlalu fokus membantu keluarga hingga lupa mempersiapkan masa depan sendiri. Padahal, jika tidak memiliki tabungan atau investasi, bukan tidak mungkin kelak Anda juga akan bergantung pada anak-anak.
Sisihkan sebagian penghasilan secara rutin untuk tabungan jangka panjang atau investasi sesuai profil risiko. Mulailah dari nominal kecil, karena konsistensi jauh lebih penting daripada jumlah yang besar.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
5. Libatkan Keluarga dalam Perencanaan Keuangan
Mengelola keuangan akan terasa lebih ringan jika dilakukan bersama pasangan. Diskusikan tujuan keuangan keluarga, termasuk besarnya bantuan untuk orang tua, biaya pendidikan anak, dan target menabung.
Komunikasi yang terbuka membantu mencegah kesalahpahaman sekaligus membuat setiap anggota keluarga memahami kondisi keuangan yang sedang dihadapi.
6. Hindari Terlalu Banyak Utang Konsumtif
Menggunakan kartu kredit atau fasilitas cicilan untuk membeli barang yang sebenarnya tidak mendesak dapat memperberat kondisi keuangan.
Jika memang harus berutang, pastikan utang tersebut bersifat produktif atau benar-benar diperlukan. Usahakan total cicilan bulanan tidak melebihi sekitar 30–35 persen dari penghasilan agar kondisi keuangan tetap sehat.
7. Miliki Perlindungan Asuransi
Biaya kesehatan dapat menjadi salah satu pengeluaran terbesar dalam keluarga. Karena itu, memiliki perlindungan seperti BPJS Kesehatan atau asuransi kesehatan tambahan dapat membantu mengurangi beban finansial ketika terjadi risiko kesehatan. [DW]





