DALAM kehidupan sehari-hari, sangat mudah menemukan kekurangan orang lain. Kesalahan kecil bisa menjadi bahan pembicaraan, kekeliruan seseorang dapat dengan cepat menyebar, bahkan tidak sedikit yang menjadikan celaan dan ejekan sebagai hiburan. Padahal, sebagai seorang Muslim, kita diajarkan untuk menjaga lisan, menghormati sesama, dan lebih sibuk memperbaiki diri daripada menghakimi orang lain.
Jangan mudah mencela, menghina, mengolok-olok, apalagi sengaja mencari-cari kesalahan orang lain. Sebab, pada hakikatnya tidak ada manusia yang sempurna. Setiap orang memiliki kekurangan, termasuk diri kita sendiri.
Nasihat tersebut selaras dengan firman Allah SWT dalam Surah Al-Hujurat ayat 11:
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diperolok lebih baik daripada mereka yang mengolok-olok. Dan jangan pula perempuan-perempuan mengolok-olok perempuan lain, boleh jadi perempuan yang diperolok lebih baik daripada perempuan yang mengolok-olok.” (QS. Al-Hujurat: 11)
Ayat ini menjadi pengingat bahwa ukuran kemuliaan seseorang tidak bisa dilihat dari penampilan, status sosial, pendidikan, maupun kekayaannya. Bisa jadi orang yang tampak sederhana justru memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah karena ketakwaan dan keikhlasannya.
Baca Juga: Alasan di Balik Harus Penuhi Hati dengan Cinta dan Bukan dengan Kebencian
Jangan Sibuk Mencari Kesalahan Orang Lain, Perbaiki Diri Sebelum Terlambat
Sayangnya, di era media sosial saat ini, budaya menghakimi semakin mudah dilakukan. Seseorang dapat memberikan komentar kasar hanya karena melihat potongan video atau foto tanpa mengetahui keadaan yang sebenarnya. Bahkan, ada yang merasa puas ketika berhasil menemukan kesalahan orang lain untuk kemudian menyebarkannya kepada banyak orang.
Padahal, Rasulullah SAW mengajarkan agar seorang Muslim menjaga kehormatan saudaranya. Menutup aib sesama merupakan salah satu akhlak mulia yang sangat dianjurkan dalam Islam. Sebaliknya, membuka atau mencari-cari kesalahan orang lain hanya akan menumbuhkan kebencian dan merusak persaudaraan.
Kebiasaan mengolok-olok juga sering muncul karena merasa diri lebih baik. Padahal, kesombongan adalah penyakit hati yang sangat berbahaya. Bisa jadi hari ini kita merasa lebih taat, lebih berhasil, atau lebih berilmu daripada orang lain. Namun siapa yang dapat menjamin keadaan hati kita di masa depan? Demikian pula, seseorang yang saat ini masih banyak kekurangan bisa saja suatu hari menjadi hamba yang sangat dicintai Allah karena taubat dan amal salehnya.
Daripada menghabiskan waktu untuk menilai orang lain, akan lebih bermanfaat jika kita menggunakan waktu tersebut untuk mengevaluasi diri sendiri. Apakah shalat kita sudah khusyuk? Apakah lisan kita sudah terjaga? Apakah kita sudah berbakti kepada orang tua? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini jauh lebih penting daripada sibuk mengomentari kehidupan orang lain.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Melihat kebaikan orang lain juga akan membuat hati lebih lapang. Kita belajar menghargai setiap orang, mengambil pelajaran dari kelebihannya, dan mendoakan ketika melihat kekurangannya. Sikap seperti ini akan memperkuat ukhuwah Islamiyah sekaligus menjauhkan diri dari penyakit hati seperti iri, dengki, dan sombong.
Sebaliknya, jika kita terus mencari kesalahan orang lain, hati akan dipenuhi prasangka buruk. Akibatnya, hubungan antarsesama menjadi renggang dan kehidupan terasa jauh dari ketenangan.
Mari menjadikan nasihat ini sebagai bahan muhasabah. Tidak ada manusia yang sempurna selain para nabi dan rasul yang dijaga Allah. Karena itu, berhentilah merasa paling benar atau paling suci. Sibukkan diri dengan memperbaiki akhlak, memperbanyak amal saleh, serta memohon kepada Allah agar diberi hati yang lembut dan lisan yang terjaga. [DW]




