SEBANYAK 670 kader ‘Aisyiyah dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah mengikuti Jambore Dakwah Kemanusiaan Aisyiyah Jawa Tengah yang digelar di Wonder Park, Tawangmangu, Karanganyar, pada 27–28 Juni 2026.
Bertepatan dengan Milad ke-109 ‘Aisyiyah dan Hari Keluarga Nasional, kegiatan ini menjadi momentum memperkuat peran keluarga sebagai fondasi pembangunan masyarakat melalui dakwah yang membumi dan berbasis aksi nyata.
Mengusung tema “Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian melalui Penguatan Qaryah Thayyibah, Ketahanan Pangan, dan Pencegahan Stunting serta Kemiskinan Ekstrem,” jambore tidak hanya menjadi forum konsolidasi kader, tetapi juga ruang pembelajaran yang mengintegrasikan penguatan ideologi, pendidikan keluarga, kesehatan, hingga pemberdayaan masyarakat desa.
Baca juga: PCA Batang Gelar Apel Milad ke-109 Aisyiyah, Momentum Perkuat Kebersamaan dan Dakwah Kemanusiaan
Ketua Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Tengah, Dr. Eny Winaryati, M.Pd., menegaskan bahwa dakwah kemanusiaan harus diwujudkan melalui gerakan yang menyentuh kebutuhan masyarakat. Karena itu, konsep Qaryah Thayyibah menjadi pijakan dalam membangun desa yang religius, sehat, mandiri, dan berdaya, dengan keluarga sebagai pusat perubahan.
Pembukaan jambore dihadiri Ketua PWM Jawa Tengah Dr. Tafsir, M.Ag., Ketua BAZNAS Jawa Tengah K.H. Dr. Achmad Darodji, M.Si., serta Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah Dr. apt. Salmah Orbayinah, M.Kes., Apt. yang memberikan penguatan tentang pentingnya dakwah yang mampu menjawab tantangan zaman melalui pendidikan, pelayanan sosial, dan pemberdayaan keluarga.
670 Kader Aisyiyah Ikuti Jambore Dakwah Kemanusiaan Aisyiyah Jateng, Perkuat Ketahanan Keluarga dan Pendidikan Masyarakat
Salah satu agenda penting dalam jambore adalah peluncuran 109 Mubalighah Penggerak Desa, yang diproyeksikan mendampingi masyarakat melalui lima program strategis, yakni Desa Cerdas Literasi Digital, Desa Peduli Kesejahteraan, Desa Kreatif dan Sehat, Riset dan Inovasi Desa, serta Fellowship Cahaya. Program tersebut diharapkan memperkuat kapasitas masyarakat sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan keluarga di era digital.
Dalam sesi kebangsaan, Menteri Koordinator Pangan Republik Indonesia, H. Dr. (H.C.) Zulkifli Hasan, S.E., M.M. menyapa peserta jambore dan menekankan pentingnya ketahanan pangan sebagai fondasi kesejahteraan keluarga. Pesan tersebut selaras dengan gerakan Aisyiyah yang mendorong keluarga mampu memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri melalui pemberdayaan masyarakat.
Sementara itu, Ketua BKOW Jawa Tengah Nawal Arafah Yasin mengajak para mubalighah untuk menguatkan pendidikan karakter anak sejak dini. Ia mencontohkan tradisi pendidikan di Hadramaut yang membiasakan anak mempelajari Kitab Bidayatul Hidayah karya Imam Al-Ghazali sebelum memasuki usia baligh sebagai bekal akhlak dan spiritualitas.
Menurut Nawal, pendidikan keluarga harus dimulai dari penanaman tauhid sebagaimana pesan dalam Surah Luqman, yaitu tidak menyekutukan Allah serta menumbuhkan kesadaran bahwa setiap manusia senantiasa berada dalam pengawasan-Nya. Nilai-nilai akhlak, tasawuf, dan kurikulum pengasuhan menjadi bekal penting bagi orang tua dalam membentuk generasi yang berkarakter.
Ia juga mengangkat keteladanan para sahabiyah, seperti Ummu Sulaim yang berhasil membangun keluarga pencinta Al-Qur’an, serta kisah Abu Thalhah yang mempersunting Ummu Sulaim dengan mahar keislaman. Keteladanan tersebut menunjukkan bahwa kekuatan keluarga bertumpu pada keimanan, pendidikan, dan akhlak mulia.
Pembelajaran tidak berhenti di ruang seminar. Pada hari kedua, peserta diterjunkan langsung ke masyarakat untuk melakukan survei kondisi desa sekaligus melaksanakan bakti sosial. Hasil pengamatan lapangan kemudian dibahas dalam workshop sebagai bahan penyusunan rekomendasi program yang berorientasi pada penguatan Qaryah Thayyibah, ketahanan pangan keluarga, percepatan penurunan stunting, pelestarian kearifan lokal, dan pengentasan kemiskinan ekstrem.
Rangkaian kegiatan juga diwarnai pentas seni yang mengangkat nilai budaya lokal serta muhasabah sebagai refleksi spiritual, sehingga keseimbangan antara penguatan intelektual, sosial, budaya, dan ruhani menjadi ciri khas jambore tahun ini.
Melalui Jambore Dakwah Kemanusiaan, Aisyiyah menegaskan bahwa dakwah tidak hanya hadir dalam mimbar pengajian, tetapi juga melalui pendidikan keluarga, pendampingan masyarakat, literasi digital, pelayanan kesehatan, ketahanan pangan, dan aksi nyata yang mampu melahirkan desa-desa yang tangguh, berdaya, dan berkemajuan.[ind]





