ABDULLAH ibn Amr ibn Haram adalah seorang sahabat Anshar dari suku Khazraj keturunan Bani Salimi. Ayahnya bernama Amr ibn Haram ibn Tsa‘labah ibn Haram. la dipanggil dengan sapaan Abu Jabir karena punya anak yang bernama Jabir— yang kelak menjadi salah satu perawi hadis Nabi saw. yang terkenal. la juga termasuk orang yang mengikuti Baiat Aqabah kedua.
Abdullah ibn Amr ibn Haram termasuk dalam dua belas orang pimpinan yang dipilih saat Baiat Aqabah kedua. Bersama Rasulullah saw. ia ikut serta dalam Perang Badar dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana Allah menumbangkan para pemimpin musyrik, seperti Abu Jahal, dua anak Rabiah, yakni Utbah dan Syaibah, al-Walid ibn Utbah, dan Umayyah ibn Khalaf, dan beberapa orang lainnya.
Sebelum berangkat menuju Perang Uhud, Abdullah ibn Amr ibn Haram memanggil putranya, Jabir, dan berkata dengan suara yang lembut. “Anakku, aku sudah mengira bahwa aku akan menjadi orang pertama yang gugur dalam perang. Demi Allah, setelah Rasulullah saw., tak ada seorang pun yang lebih kucintai selain engkau. Jika aku punya utang maka bayarkan utangku! Dan ajari saudara-saudaramu kebaikan!”
Baca Juga: Al Abbas bin Abdul Muthalib Menjadi Penyedia Minuman bagi Jamaah Haji
Kisah Abdullah bin Amr bin Haram yang Diajak Bicara oleh Allah
Itiilah amanah yang dikatakan kepada putranya Jabir sebelum ia berangkat menuju Uhud. Kenyataan yang terjadi
memang sesuai dengan perkiraannya. la menjadi korban pertama dari pihak pasukan Muslim. Pada saat itu, tentara musyrik memotong hidung dan telinganya. Atas perintah Rasulullah Shalallahu, ‘alaihi wa Sallam jenazahnya dimakamkan dalam satu liang bersama saudara iparnya, Amru ibn al-Jamuh.
Diriwayatkan dari Muhammad ibn al-Munkadir bahwa Jabir ibn Abdullah berkata, “Ayahku terbunuh pada Perang
Uhud. Aku terkejut ketika melihat jenazahnya, karena wajahnya rusak. Aku menangis. Semua orang melarangku menangis, tetapi Rasulullah ridak melarangku.”
Muhammad ibn al-Munkadir melanjutkan, “Fatimah binti Amr, bibinya Jabir, juga menangis. Rasulullah bersabda,
“Menangis atau pun tidak menangis, para malaikat selalu menaunginya dengan sayap-sayap mereka hingga kalian mengangkatnya.”
Diriwayatkan dari Jabir ibn Abdullah bahwa Rasulullah melihat kepadanya, lalu bersabda, “Aku melihatmu kebingungan?”
Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, ayahku telah terbunuh la meninggalkan utang dan keluarga.”
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Beliau bersabda, “Maukah kusampaikan kepadamu, Allah tidak akan berbicara kepada siapa pun kecuali dari balik hijab. Sementara, Dia berbicara kepada ayahmu dengan berhadaphadapan. Dia berfirman (kepada ayahmu), ‘Hai hamba-Ku, mintalah kepada-Ku, pasti Kuberikan.’ Ayahmu berkata, ‘Aku mohon kepada-Mu agar Engkau mengembalikanku ke dunia, agar sekali lagi aku terbunuh di jalan-Mu.’
Allah berfirman, ‘Kutetapkan bahwa siapa pun tak dapat dikembalikan ke dunia dan tak akan kembali.’ Ayahmu kembali berkata, ‘Wahai Tuhanku, sampaikan kepada orang-orang sesudahku.’ Lalu Allah menurunkan firman-Nya, “Dan jangan sekali-kali engkau mengira orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati” [DW]
Sumber: Ensiklopedia Biografi Sahabat Nabi. Muhammad Raji Hasan Kinas. Zaman: 2012.





