KETIKA Nabi Ya‘qub ‘alaihissalām berkata, “Aku khawatir dia akan dimakan serigala,” maka beliau kehilangan Yusuf… dan kehilangan penglihatannya.
Dan ketika beliau berkata, “Aku menyerahkan urusanku kepada Allah,” maka Yusuf kembali… dan penglihatannya pun kembali.
Ya Allah, sesungguhnya aku menyerahkan segala urusanku kepada-Mu. Kata hikmah ini menggambarkan begitu dahsyatnya kekuatan tawakkal. Siapa yang hanya bersandar pada kekuatannya sendiri, maka kekuatannya itu akan melemahkannya. Namun siapa yang bersandar hanya kepada Allah, maka kelemahannya tidak akan membahayakannya. Itulah yang terjadi pada Nabi Ya‘qub ‘alaihissalām.
Baca Juga: Menyapih Anak Sebelum Dua Tahun
Inilah Kekuatan dari Tawakal
Marilah kita kembali melihat apa yang dikatakan Ya‘qub ‘alaihissalām ketika saudara-saudara Yusuf ingin membawanya:
قَالَ إِنِّي لَيَحْزُنُنِي أَنْ تَذْهَبُوا بِهِ وَأَخَافُ أَنْ يَأْكُلَهُ الذِّئْبُ وَأَنْتُمْ عَنْهُ غَافِلُونَ
“Dia (Ya‘qub) berkata: ‘Sesungguhnya kepergian kalian bersama Yusuf sangat menyedihkanku dan aku khawatir kalau dia dimakan serigala, sedang kalian lengah darinya.’” (QS. Yusuf: 13)
Ketika saudara-saudara Yusuf datang kepada ayah mereka dengan membawa baju yang berlumuran darah, mereka berkata bahwa Yusuf dimakan serigala. Padahal itu hanyalah rekayasa mereka. Baju Yusuf hanya berlumuran darah, namun tidak robek sedikit pun. Seandainya Yusuf benar-benar dimakan serigala, tentu bajunya akan compang-camping. Mana mungkin ada serigala yang membuka baju korbannya terlebih dahulu sebelum menerkamnya?
Mendengar berita itu, Nabi Ya‘qub menangis hingga penglihatannya hilang. Namun beliau tetap berkata:
فَصَبْرٌ جَمِيلٌ ۖ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ
“Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan hanya kepada Allah dimohon pertolongan terhadap apa yang kalian ceritakan.” (QS. Yusuf: 18)
Dan beliau juga berkata:
إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ
“Hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (QS. Yusuf: 86)
Ya‘qub pun bersabar dengan kesabaran yang indah, yaitu kesabaran yang tidak disertai keluhan kepada manusia. Sebab, mengeluh kepada manusia tidak akan mengembalikan apa yang telah hilang; bahkan terkadang hanya membuat senang orang-orang yang memiliki kedengkian di dalam hatinya.
Karena itu, mengadulah hanya kepada Allah dan bertawakkallah hanya kepada-Nya. Dia akan mengganti kesedihan dengan sesuatu yang lebih baik. Akhirnya Allah pun memberikan jawaban atas kesabaran dan tawakkal Nabi Ya‘qub:
فَلَمَّا جَاءَ الْبَشِيرُ أَلْقَاهُ عَلَىٰ وَجْهِهِ فَارْتَدَّ بَصِيرًا ۖ قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
“Tatkala telah tiba pembawa kabar gembira itu, maka diletakkannya baju gamis itu ke wajah Ya‘qub, lalu kembalilah dia dapat melihat. Ya‘qub berkata: ‘Bukankah telah aku katakan kepada kalian bahwa aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kalian ketahui?’” (QS. Yusuf: 96)
Wahbah az-Zuhaili berkata tentang ayat ini:
“Ketika pembawa kabar gembira, yaitu Yahudza, datang dari Mesir membawa baju Yusuf dan menyampaikan kabar keselamatan Yusuf serta saudaranya, dia meletakkan baju itu di wajah Ya‘qub, lalu penglihatannya kembali karena sangat bahagia.
Ketika itu Ya‘qub berkata kepada anak-anaknya: ‘Bukankah aku telah mengatakan kepada kalian bahwa aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kalian ketahui?’ Maksudnya, Allah akan mengembalikan Yusuf dan saudaranya kepadaku sehingga kami dapat berkumpul kembali.” [DW]
Sumber: Ustadz Faisal Kunhi M.A.