IRAN akhirnya bisa bertanding di piala dunia di AS. Meski mengalami banyak teror, tim Iran berhasil menahan imbang Selandia Baru dengan skor 2-2.
Sepak bola itu olah raga. Dan piala dunia, merupakan wujud persahabatan dunia melalui olah raga. Tapi bagi AS, yang katanya negara paling inklusif, sepak bola tidak dianggap sekadar ajang olah raga. Melainkan juga politik dan rasisme.
Teror untuk Tim Iran
Sejak awal, jauh sebelum pertandingan dilangsungkan, teror kerap dialami tim Iran. Tuan rumah: AS, tidak mau memberikan izin tinggal untuk tim Iran.
Akibatnya, Iran merupakan satu-satunya tim piala dunia yang menginap dan berlatih di Tijuana, Meksiko. Kalau ada jadwal pertandingan, tim ini terbang dari Meksiko ke AS. Setelah pertandingan usai, tim ini juga harus segera pergi meninggalkan AS.
Ketika tim ini baru tiba di AS, kendaraan yang ditumpangi didemo ratusan orang dengan mengibarkan bendera AS dan Israel. Mereka meneriakkan yel-yel kecamatan terhadap tim Iran.
Itu masih belum seberapa. Bahkan ketika di awal ajang latihan, tim Iran mendapatkan kiriman kantung mayat. Hingga kini, pihak kepolisian setempat masih belum bisa memberikan informasi tentang asal muasal kantung mayat itu.
Laga Pertama Melawan Selandia Baru
Awalnya publik sepak bola skeptis dengan Tim Iran di laga pertama melawan Selandia Baru di stadion Los Angeles, AS. Selain karena tekanan mental yang begitu berat, Selandia Baru juga bukan tim lemah.
Namun, hasilnya di luar dugaan, Tim Iran berhasil menahan imbang dengan skor 2-2. Sebuah pencapaian yang lumayan di tengah teror yang luar biasa dan dukungan penonton yang nyaris tak ada. Kecuali, warga Meksiko yang begitu setia menjadi relawan.
Dua gol itu diperoleh dari dua tim penyerang Iran: Ramin Rezaian dan Mohammad Mohebi. Bahkan, ada satu momen selebrasi gol yang dianggap pengamat sepak bola sebagai yang paling berani di dunia.
Yaitu, ketika Ramin Rezaian memperlihatkan tangan kanannya dengan simbol tembakan pistol tiga kali. Gestur ini seperti memperlihatkan keberanian tim Iran melawan tekanan dari pemerintah AS.
Rasisme AS
Kita masih ingat ketika Indonesia ditunjuk FIFA sebagai tuan rumah ajang piala dunia U20. Tapi, penunjukkan itu tiba-tiba dibatalkan dan pertandingan dipindahkan ke negara lain.
Apa sebabnya? Hal ini karena adanya penolakan melalui demo yang dilakukan sebagian publik Indonesia terhadap tim Israel.
AS bukan sekadar demo oleh sebagian warganya terhadap Tim Iran. Bahkan, Trump terang-terangan menyatakan bahwa kemenangan tim Iran merupakan ancaman buat AS.
Bukan itu saja, pemerintah AS pun tidak mau memberikan izin tinggal terhadap seluruh personil tim dari Iran. Tapi anehnya, FIFA sama sekali tidak menghukum AS. Bahkan menegur pun tidak. Hal yang jauh berbeda ketika menghukum Indonesia. [Mh]



