HIJRAH itu pindah. Hijrah juga berubah menjadi lebih baik. Hijrah adalah meneladani sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Zainab binti Rasulillah shallallahu ‘alaihi wasallam ingin sekali berhijrah. Ingin hidup bersama ayahanda tercinta, adik-adik, dan ponakan. Tinggal di tempat baru bernama Madinah.
Tapi, bagaimana dengan suami tercinta: Abul ‘Ash. Kalau Umamah, putri Zainab siap ikut ibunya tinggal di mana saja. Kenapa sang suami tak mau hijrah?
Ia masih belum mau masuk Islam. Mungkin karena tekanan dari keluarga besarnya, atau juga oleh para koleganya di Mekah.
Dengan berbagai cara, alhamdulillah, Zainab dan putrinya akhirnya bisa hijrah menemui ayahanda di Madinah. Bisa juga bertemu dengan adik-adik tercinta: Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fathimah radhiyallahu ‘anhum. Meskipun itu harus dibayar dengan berpisah suami tercinta.
**
Durrah binti Abu Lahab radhiyallahu ‘anha ingin sekali hijrah bersama Nabi dan umat Islam ke Madinah. Inilah putri Abu Lahab yang berbeda ‘jalan’ dengan ayah, ibu, dan keluarga besarnya.
Suaminya juga tak mau ikut. Ia masih kafir dan sulit diajak bergabung dalam barisan umat Islam.
Dengan berbagai cara, Durrah akhirnya bisa berangkat hijrah dan tiba di Madinah dengan selamat. Ia tak pernah berpikir nantinya akan bertempat tinggal di mana, di rumah siapa. Yang penting, ia bisa mengikuti perintah Nabi yang mulia.
Sekelompok wanita di sana terkejut ketika ada putri Abu Lahab tinggal bersama mereka di Madinah. Bukankah Abu Lahab musuh Nabi, musuh Allah, seperti yang digambarkan Al-Qur’an dalam Surah Al-Lahab.
Dan, mereka pun melecehkan Durrah seolah tak pantas tinggal di Kota Nabi itu. Hal itu membuatnya begitu sedih. Ia sudah meninggalkan semua yang dicintai demi hijrah, tapi yang ia alami justru sebaliknya.
Nabi marah mendengar kisah Durrah itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan langsung berpidato di mimbar untuk meluruskan tentang Durrah itu.
**
Sebagian besar para tokoh Mekah yang hijrah: Abu Bakar, Umar bin Khaththab, Usman bin Affan, Zubair bin Awwam, Saad bin Abi Waqash, dan lainnya adalah para pedagang. Bukan pedagang biasa, tapi lintas negara.
Risiko hijrah ke Madinah sama saja dengan berhenti dari berdagang: konsumen ada di Mekah, semua warga Madinah diboikot jazirah Arab, dan Madinah merupakan kota pertanian dan ternak. Bukan tempat bisnis yang menjanjikan.
Namun, mereka semua ridha dengan segala risiko itu. Siap hidup ala kadarnya demi menunaikan perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk berhijrah.
**
Tak ada janji materi yang mereka terima dari Nabi. Tak ada jaminan tempat hidup yang layak. Tak ada jaminan penghasilan yang lumayan. Bahkan, tak ada jaminan kehidupan yang aman.
Mereka korbankan rumah, bisnis, tabungan, bahkan sanak keluarga yang tak ingin ikut; demi bisa berhijrah ke Madinah.
Nantinya, mereka tidak tinggal selama sepekan di Madinah. Tidak pula sebulan, setahun, atau janji-janji waktu dari Nabi. Mereka siap akan tinggal selamanya. Melepas dan melupakan tanah tumpah darah, tanah kelahiran yang menyimpan sejuta kenangan.
Para sahabat yang mulia itu: laki dan perempuan, hanya mengharapkan keridhaan dari Allah subhanahu wata’ala. Dan, mereka tuntaskan amal berat itu dengan begitu sempurna.
Hijrah tempat memang sudah tak ada lagi seperti yang disampaikan Nabi. Tapi melakukan perubahan diri tak akan pernah berhenti sampai tiba mati.
Ulama mengatakan, “Tegakkan Islam dalam diri kalian. Niscaya, ia akan tegak dalam negeri kalian.” [Mh]



