MAKANAN kaleng menjadi salah satu pilihan praktis bagi banyak orang. Banyak alasan mengapa makanan kaleng dianggap sebagai salah satu pilihan yang praktis.
Selain mudah disimpan dalam waktu lama, produk ini juga dapat langsung dikonsumsi atau diolah menjadi berbagai hidangan.
Namun, di balik kepraktisannya, konsumsi makanan kaleng yang terlalu sering perlu mendapat perhatian karena dapat menimbulkan berbagai risiko bagi kesehatan.
Pada dasarnya, tidak semua makanan kaleng berbahaya. Proses pengalengan justru membantu menjaga keamanan pangan dengan menghambat pertumbuhan mikroorganisme.
Masalah sering muncul ketika makanan kaleng dikonsumsi secara berlebihan dan menjadi bagian utama dari pola makan sehari-hari.
Salah satu risiko yang paling sering dikaitkan dengan makanan kaleng adalah kandungan natrium atau garam yang cukup tinggi. Banyak produk kalengan, seperti sup, sarden, kornet, dan makanan siap saji, menggunakan garam sebagai bahan pengawet sekaligus penambah rasa. Konsumsi natrium berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah dan memperbesar risiko penyakit jantung serta stroke.
Baca Juga: Lima Tips Mengolah Kacang Mete di Rumah
Terlalu Sering Makan Makanan Kaleng, Apa Dampaknya bagi Tubuh?
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui kampanye GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat) mengingatkan masyarakat untuk membatasi konsumsi garam, gula, dan lemak demi mencegah penyakit tidak menular seperti hipertensi dan penyakit jantung. Jika makanan kaleng dikonsumsi terlalu sering tanpa diimbangi makanan segar, asupan natrium harian bisa melebihi batas yang dianjurkan.
Selain kandungan garam, beberapa makanan kaleng juga mengandung gula tambahan yang cukup tinggi. Produk seperti buah kalengan atau makanan penutup dalam kemasan sering kali menggunakan sirup gula untuk mempertahankan rasa dan tekstur. Konsumsi gula berlebihan dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko obesitas, diabetes tipe 2, dan gangguan metabolisme lainnya.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah lapisan bagian dalam kaleng. Beberapa jenis kaleng menggunakan bahan kimia tertentu, termasuk Bisphenol A (BPA), untuk mencegah korosi. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa paparan BPA dalam jumlah tinggi dapat memengaruhi sistem hormon tubuh. Meski banyak produsen kini mulai mengurangi atau menghilangkan penggunaan BPA, konsumen tetap disarankan untuk tidak bergantung sepenuhnya pada makanan kemasan.
Makanan kaleng juga umumnya memiliki kandungan vitamin yang lebih rendah dibandingkan makanan segar. Proses pemanasan saat pengalengan dapat mengurangi sebagian vitamin yang sensitif terhadap panas, seperti vitamin C dan beberapa vitamin B. Karena itu, terlalu sering mengonsumsi makanan kaleng dapat membuat asupan zat gizi menjadi kurang seimbang.
Tidak kalah penting, konsumsi makanan kaleng secara berlebihan dapat membentuk pola makan yang minim buah dan sayuran segar. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa konsumsi sayur dan buah segar secara rutin berperan penting dalam menjaga kesehatan pencernaan, meningkatkan daya tahan tubuh, serta menurunkan risiko berbagai penyakit kronis. [DW]





