KITA kerap melihat pemandangan dalam sebuah perjalanan. Ada begitu banyak makna. Tapi, makna apa yang mereka tangkap tentang kita?
Sebuah kereta eksekutif melalui wilayah yang menarik untuk disimak. Wilayah itu adalah kawasan pegunungan. Banyak warna hijau asri menghias sepanjang perjalanan.
Berjajar persawahan yang mulai menguning, membuka banyak harapan. Sejumlah petani tampak begitu sibuk mengolah tanah-tanah subur mereka.
Kereta terus melaju kencang. Dan, pemandangan pun terus berganti. Dari suasana hijau menjadi warna-warni lain yang memanjakan mata.
Ada pula dominasi warna coklat yang menyimpulkan suasana gersang di dekat pesisir. Rumah-rumah sangat sederhana seperti berpencar saling berjauhan.
Tiba-tiba kereta melambat. Biasanya, akan ada stasiun yang tak seberapa jauh dari situ. Bahkan, kadang pula kereta berhenti sama sekali, meski hanya sebentar. Mungkin menunggu giliran untuk melewati stasiun kecil.
Di saat berhenti, tiba-tiba ada seorang bocah tampak mendekat ke arah kaca jendela. Di luar dugaan, tangan kecilnya melemparkan sesuatu: lumpur tanah. Kotoran itu memang tidak memecahkan kaca jendela. Tapi, menempel.
Bocah itu lari menjauh. Gerakannya seperti meledek ke arah jendela itu. Tapi, entah apa yang ia maksudkan. Dan entah apa pula yang ia pikirkan tentang kereta yang sejenak berhenti itu.
**
Kadang narsisme menutup pandangan dua arah tentang kita dan lingkungan sekeliling kita. Kita menjadi begitu subjektif tentang sekitar tanpa peduli bagaimana sekitar subjektif terhadap kita.
Berhati-hatilah membuat kesimpulan dari sifat narsisme itu. Boleh jadi, yang tampak seperti senyum dari kejauhan, adalah makian dari sebuah kemarahan. [Mh]


