DPR AS memutuskan untuk membatasi kewenangan Trump dalam perang melawan Iran. Dengan begitu, Trump tidak bisa mengambil keputusan sendiri untuk melanjutkan perang dengan Iran tanpa persetujuan DPR.
Keputusan ini diambil melalui voting, Rabu (3/6). Perbedaan suara tergolong tipis: 215 tolak keputusan Trump dan 208 setuju keputusan Trump.
Bahkan dikabarkan ada sebanyak 4 anggota DPR dari Partai Republik yang ‘lompat’ mendukung Partai Demokrat untuk menolak keputusan Trump. Partai Republik merupakan partai yang mendukung Trump dalam Pilpres lalu.
Dari hasil keputusan ini, landasan hukum Trump dalam perang terhadap Iran semakin tidak jelas. Jika terus dilanjutkan, maka Trump terancam akan mengalami pemecatan.
AS dan Israel
Perang AS terhadap Iran sebenarnya ulah Israel. Israel terus melakukan desakan terhadap Trump untuk melakukan penyerangan terhadap Iran. Alasannya macam-macam. Mulai dari isu nuklir, terorisme, dan kebebasan hak sipil.
Semua tuduhan itu terbukti tak mendasar. Dengan begitu, posisi AS dalam perang ini menjadi sangat naif. Kecuali sebagai pihak yang ‘diperbudak’ Israel.
Ketidakjelasan posisi AS dalam perang Israel dan Iran inilah yang akhirnya memunculkan konflik luar biasa di tubuh pemerintahan Trump. Mereka mempertanyakan, atas dasar apa AS ikut dalam perang brutal Israel terhadap Iran, Gaza, dan Lebanon.
Sementara, kerugian yang harus dipikul pihak AS begitu besar. Hal ini karena sejumlah pangkalan militer AS di negara-negara teluk hancur total. Belum lagi korban jiwa yang terus berjatuhan dari tentara AS.
Maju Kena, Mundur Kena
Awalnya karena salah prediksi. AS termakan informasi yang salah dari Israel tentang Iran. Ternyata, Iran tidak selemah yang dibayangkan AS dan Israel. Bahkan, kalau tidak ada gencatan senjata dari AS, kehancuran militer AS di teluk tak lagi bisa tertolong.
Iran menyambut upaya gencatan senjata, boleh jadi, lebih karena ingin mempersilakan umat Islam dunia untuk menunaikan ibadah haji. Hal itu merupakan hukum yang tidak tertulis dalam masyarakat Islam dunia: haji harus dalam keadaan damai.
Tapi kini, ibadah haji sudah usai. Sebagian besar jamaah sudah kembali ke tanah air masing-masing.
Mestinya, momen ini dimanfaatkan AS untuk benar-benar menghentikan perang. Dengan begitu, AS tak kehilangan muka karena mengalami kerugian besar.
Tapi, lagi-lagi Israel menyabotase gencatan senjata itu. Hanya beberapa jam keputusan gencatan senjata dilakukan, Israel menyerang Lebanon dengan sangat brutal.
Selain Israel, kini lembaga politik besar AS ikut nimbrung dalam perang ini: Kongres. Dan di tengah kebingungan Trump untuk berkelit antara tuntutan Israel dan kenyataan ketidakmampuan, konsekuensi politik di dalam negeri begitu besar jika perang dilanjutkan.
Seolah-olah, DPR AS meminta Trump untuk mundur dari ‘basa-basi’ perundingan dan menjadi pembenaran bahwa AS memang sudah kalah dalam perang yang sangat merugikan dunia ini.
Inilah posisi sulit Trump: meneruskan perang, ia akan berhadapan dengan rakyat AS, dan mundur dari perang menjadi bukti kalau ia sudah gagal.
Israel Terus Melakukan Provokasi
Sejumlah pengamat militer sebelumnya terheran-heran dengan terdeteksinya pangkalan militer Israel di wilayah Irak di tengah kisruh perang ini. Apa kepentingannya?
Boleh jadi, dari pangkalan inilah segala ‘manuver’ provokasi Israel dilakukan dari pangkalan ini. Yaitu, serangan terhadap Iran yang seolah-olah berasal dari AS. Begitu pun sebaliknya: serangan terhadap negara-negara teluk yang seolah-olah dilakukan oleh Iran.
Kasus terakhir adalah hancurnya bandara internasional Kuwait yang dituduhkan dilakukan oleh Iran. Padahal, Iran sudah menjelaskan bahwa pihaknya tidak pernah menyasar aset-aset sipil termasuk bandara Kuwait.
Sebelumnya, pihak Uni Emirat Arab juga memprotes Iran karena menyerang instalasi minyaknya. Dan, Iran kembali menegaskan bahwa serangan itu bukan dilakukan oleh pihaknya.
Jika Perang Diteruskan
Jika AS terus menjadi ‘budak’ Israel dalam perang melawan Iran ini, maka konstelasi akan meluas. Diketahui, Rusia sudah kembali mengokohkan pangkalan militernya di Suriah baru-baru ini.
Bahkan, dikabarkan Rusia tengah menjalin kerja sama dengan militer Turki. Di sisi lain, AS sudah memanaskan Jepang dan Filipina untuk bereaksi terhadap manuver Cina.
Tidak tertutup kemungkinan, perang besar bukan hanya terjadi di wilayah Hormuz dan timur tengah, melainkan juga merembet ke wilayah lain yang lebih luas. Semoga ini tidak terjadi. [Mh]





