TAWAKAL itu buah dari tauhid yang kuat. Ada keyakinan bahwa Allah tidak akan mengabaikannya.
Begitu banyak pelajaran dari Nabi Ibrahim alaihissalam. Setelah beliau menikah dengan Sayyidah Sarah, harapan memperoleh keturunan begitu kuat. Tapi, sekian lama menikah, anak yang diharapkan tak kunjung ‘datang’.
Kemudian, Allah berkehendak Nabi Ibrahim mendapatkan istri kedua, yaitu Sayyidah Hajar. Sama halnya dengan istri pertama, harapan kelahiran anak tak juga terwujud.
Masa penantian itu terus bergulir hingga 86 tahun. Sebuah penantian yang begitu panjang. Padahal, beliau tak pernah luput dari doa agar Allah menganugerahkannya anak. Inilah ujian pertama.
Ujian kedua datang. Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk membawa Sayyidah Hajar ke sebuah lembah tandus tanpa penghuni, tanpa air, bahkan pohon. Nama lembah itu Mekah.
Keberkahan pun datang. Allah menganugerahkan Nabi Ibrahim dan Sayyidah Hajar dengan kelahiran seorang putra, yang diberi nama Ismail alaihissalam.
Belum lagi Nabi Ibrahim merasakan kebahagiaan luar biasa itu, datang ujian ketiga. Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk kembali ke Palestina dan meninggalkan istri dan buah hati kesayangannya di daerah yang ‘horor’ seperti itu.
Perjalanan dari Palestina ke Mekah atau sebaliknya memakan waktu sekitar satu bulan. Bayangkan, bagaimana mungkin seorang ayah mampu meninggalkan istri dan bayi yang sangat dicintainya dengan begitu lama.
Singkat cerita, Nabi Ibrahim kembali ke Mekah menemui dua buah hatinya itu. Usia Nabi Ismail sudah sekitar belasan tahun. Tapi di saat yang penuh kebahagiaan itu, datang ujian keempat.
Ujian itu berupa perintah Allah dalam mimpi Nabi Ibrahim untuk menyembelih putra tercintanya: Nabi Ismail, sosok anak yang begitu ideal: santun, taat, berbakti, dan bagus secara fisik.
Mimpi ini bahkan dikisahkan terjadi hingga tiga kali. Seolah seperti sebuah kepastian bahwa itu memang benar sebagai perintah dari Allah subhanahu wata’ala.
Akhirnya, Nabi Ibrahim mengungkapkan hal berat itu kepada sang putra, menunjukkan bentuk hal bijaksana dari seorang ayah kepada anaknya.
Apa jawaban sang anak? Nabi Ismail menjawab, “Lakukan apa yang Allah perintahkan itu, ayah! Insya Allah, engkau akan mendapatiku dalam keadaan sabar.”
Iblis mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menggagalkan amal luar biasa itu. ‘Serangan’ segitiga dilancarkan: kepada Nabi Ibrahim, Sayyidah Hajar, dan juga Nabi Ismail yang masih remaja.
Setan terus menggoda untuk mengajak ketiganya berpikir secara ‘realistis’: “Masak tega sih?” Dan seterusnya. Sebuah godaan yang membenturkan antara logika manusia yang dangkal dengan kekuatan tauhid.
Ketiganya akhirnya sukses mengalahkan setan. Mereka melempar setan-setan itu dengan batu-batu. Hal inilah yang akhirnya menjadi simbol jumrah di ibadah haji.
Akhirnya, saat-saat ‘horor’ itu pun tiba. Nabi Ismail sudah berada di ‘genggaman’ Nabi Ibrahim. Keduanya pun ‘pasrah’ atas apa yang Allah perintahkan. Pisau tajam pun sudah siap untuk melakukan tugasnya melalui tangan Nabi Ibrahim.
Namun, sebuah suara menghentikan itu. Suara ghaib yang memuji kekuatan tauhid Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.
“(Ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu dia melaksanakannya dengan sempurna…” (QS. Al-Baqarah: 124)
**
Tak ada kenaikan ‘kelas’ tanpa ujian. Semakin tinggi ‘kelas’ yang dimasuki, akan semakin berat ujian yang akan dilalui.
Begitu pun dengan kita. Setiap saat, Allah akan menguji kita dengan berbagai ujian. Dari yang ringan hingga yang begitu berat kita rasakan.
Modal dasar dari semua kekuatan itu adalah tauhid. Semakin kuat tauhid seseorang, semakin mulus bergulirnya ujian. Begitu pun sebaliknya. Dan Allah, tidak akan membenani kita di luar kesanggupan.
Jaga rasa syukur terhadap apa yang Allah anugerahkan, karena itu ujian. Dan jaga pula sikap sabar terhadap hal berat yang Allah timpakan, karena itu juga merupakan ujian.
Setelah itu, kita akan ‘naik kelas’ di sisi Allah subhanahu wata’ala. [Mh]




