BUKAN daging dan darah hewan qurban yang sampai kepada Allah, melainkan takwa kalian. (Al-Hajj: 37)
Begitu banyak hikmah dan pelajaran dari ibadah qurban. Hikmah dan pelajaran itu akan terus mengalir selama umat Islam tetap melestarikannya.
Hikmah Shahibul Qurban
Allah subhanahu wata’ala menjelaskan bahwa bukan daging darah yang sampai kepada-Nya. Melainkan takwa umat Islam.
Hal ini menunjukkan bahwa ibadah qurban itu bukan semacam sesajen. Melainkan sebuah syariat yang hikmahnya kembali lagi ke pelaku.
Apa saja? Qurban bisa mengikis sifat kikir yang merupakan bakat alami manusia. Kalau harta sudah ada di tangan, rasanya akan begitu sulit untuk dilepaskan.
Padahal, sifat kikir itu tidak menguntungkan sama sekali. Justru akan menjadi blunder. Dalam ikhtiar apa pun, dalam bentuk hidup apa pun; melepas rasa kikir menjadi hal yang utama.
Terlebih lagi di sisi Allah subhanahu wata’ala. Orang yang senantiasa mengharap ridha Allah, akan terlatih untuk menihilkan unsur duniawi demi investasi ukhrawi. Inilah ciri takwa.
Dua, Terjalinnya Persaudaraan Umat
Kalau ditelisik lebih dalam kenapa angka kriminalitas naik, jawabannya karena adanya ketimpangan ekonomi. Yang kaya tidak peduli dengan yang miskin, dan yang miskin menyimpan kebencian kepada yang kaya.
Kesenjangan ekonomi juga menyuburkan disharmoni di masyarakat. Padahal, umat Islam itu bersaudara. Dan siapa pun kita, tak akan bisa hidup bahagia tanpa persaudaraan itu.
Tiga, Kebaikan Ekonomi dan Pertumbuhan Hewan Ternak
Penjualan hewan qurban bisa menjadi perputaran ekonomi tersendiri. Bisa menjadi lahan pendapatan.
Berapa omset nasional dari hewan qurban? Perkiraannya sekitar 10 triliun rupiah. Angka ini lumayan bisa menjadi ‘darah segar’ untuk pemasukan sebagian umat Islam.
Dari sisi pertumbuhan hewannya, karena yang disembelih itu hewan jantan yang sudah cukup umur, maka hal ini tidak akan mengurangi populasi hewan ternak. Sebaliknya, ini akan melestarikan pertumbuhan bisnis hewan ternak.
Empat, Menyegarkan Keaslian Syariat Islam
Syariat Islam merupakan kelanjutan dari syariat para Nabi dan Rasul sebelumnya. Hal ini akan menjadi pemahaman tersendiri bahwa Islam itu harus orisinil, bukan manipulasi atas nama apa pun: perkembangan zaman, fanatisme bangsa, dan lainnya.
Ibadah qurban merupakan sunnah yang pernah dilakukan oleh ayah para Nabi dan Rasul: yaitu Nabi Ibrahim alaihissalam. Melaksanakan ibadah qurban, kita akan tersegarkan dengan hikmah dan pelajaran dari sunnah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.
Jika seluruh dunia menghidupkan amaliyah yang sama, akan terbangun rasa kebersamaan umat. Meskipun berbeda bangsa, ras; tapi satu dalam agama Islam. [Mh]





