KEMUNAFIKAN ada dua jenis. Ada yang dari keyakinan, ada pula dari kebiasaan.
Di Madinah pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ada tokoh munafik fenomenal. Banyak orang yang mengetahui dia: Abdullah bin Ubay bin Salul.
Suatu kali ada isu kalau Nabi akan memberikan hukuman fisik untuk Ibnu Salul itu. Seperti halnya, Nabi juga secara rahasia ‘menghukum’ tokoh Yahudi di Madinah yang membahayakan umat Islam.
Hal ini terjadi setelah kasus fitnah terhadap Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha yang diisukan buruk setelah tiba di Madinah dengan seorang sahabat yang masih muda, tampan, dan baik.
Setelah Allah subhanahu wata’ala menurunkan firman-Nya sebagai penjelasan tentang kebersihan Sayyidah Aisyah, Ibnu Salul ini panik bukan kepalang.
Dua sahabat ternama menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Sosok pertama adalah Saad bin Ubadah radhiyallahu ‘anhu sebagai kepala kabilah Khazraj.
Sahabat mulia ini mengatakan yang intinya memohon kepada Nabi untuk tidak menghukum fisik Ibnu Salul. Beliau juga memberikan semacam pemakluman: Ya Rasulullah, sebelum Anda hijrah, Ibnu Salul sedang kami buatkan mahkota raja di Madinah.
Nabi pun memastikan kepada Saad: tidak!
Sosok kedua adalah sahabat mulia yang juga putra dari Ibnu Salul. Namanya Abdullah radhiyallahu ‘anhu.
Abdullah mengatakan, Ya Rasulullah biarkan aku yang menghukum ayahku. Jangan kau tugaskan orang lain. Karena aku khawatir akan dendam.
Nabi pun memastikan lagi: tidak!
Ibnu Salul akhirnya wafat karena sakit. Bukan karena diamuk atau dikeroyok umat Islam yang ‘panas’ dengan tindakan Ibnu Salul itu.
**
Kemunafikan itu ada dua: yang berasal dari keyakinan, dan ada yang karena amal atau kebiasaan. Misalnya, sering berdusta, ingkar janji, dan tidak amanah.
Ada kemunafikan yang berat. Yaitu, yang berasal dari keyakinan. Tipe ini seperti hanya pura-pura sebagai muslim. Padahal, hatinya tidak di pihak itu.
Karena itu, berhati-hatilah dengan karakter ‘menyimpang’ kita yang tersembunyi. Seperti, gemar berbohong, membagus-baguskan cerita fakta atau sebaliknya,
Jangan biarkan ‘penyimpangan’ yang dianggap kecil itu terus berulang. Karena jika ada kesempatannya, hal buruk kecil bisa muncul tiba-tiba menjadi sangat besar.
Lawan sifat menyimpang kita jika terasa ada, meskipun kecil. Gantikan yang buruk itu dengan ‘’memaksakan’ sifat baik yang menjadi tumbuh dominan. Tentu dengan memohon bantuan Allah subhanahu wata’ala. [Mh]


