INDONESIA pernah memiliki tokoh pejuang hukum seperti Baharuddin Lopa. Ia memiliki integritas yang luar biasa.
Baharuddin Lopa lahir di sebuah daerah bernama Pambusuang, Polewali Mandar, 27 Agustus 1935. Alumnus Universitas Hasanuddin dan Diponegoro ini menerima jabatan berat di masanya: Jaksa Agung.
Ia menjabat posisi itu di masa awal reformasi, sejak 6 Juni 2001 hingga 3 Juli 2001. Perhatikan masa jabatan itu: tidak sampai satu bulan!
Hal ini karena setelah menghadiri serah terima pejabat duta besar Indonesia untuk Arab Saudi di Riyadh, Lopa muntah-muntah dan dirawat di rumah sakit setempat. Ia dirawat sejak 30 Juni dan wafat di tanggal 3 Juli di rumah sakit di Arab Saudi.
Sebabnya diduga karena kelelahan. Karena beberapa hari sebelumnya, Lopa dan istri serta didampingi staf melaksanakan ibadah umrah. Lopa melaksanakan ibadah itu di malam hari karena tidak ingin menggunakan jam kerja untuk keperluan pribadi.
Pernah di masa jabatannya yang singkat itu, Lopa melakukan kunjungan kerja ke sebuah daerah. Saat akan perjalanan pulang, ia dikabarkan kalau tangki mobil dinasnya itu penuh. Pejabat setempat sepertinya ingin memberikan ‘salam kekeluargaan’ untuk pejabat kejaksaan agung baru itu.
Di luar dugaan, Lopa keluar mobil yang diikuti stafnya. Ia meminta stafnya untuk mencari selang dan jerigen. Semua orang di lokasi bingung dengan tingkah Jaksa Agung ini.
Rupanya, Lopa meminta stafnya untuk menyedot bensin ‘hadiah’ itu ke jerigen. Bensin itu dipulangkan kembali ke pemberi.
“Tunjangan perjalanan dinas saya sudah sangat cukup untuk membeli bensin mobil ini!” begitu kira-kira yang diungkapkan Lopa yang disambut pucat pasi oleh pejabat setempat.
Baharuddin Lopa bukan hanya berintegritas tinggi. Setiap akhir pekan, ia kerap mengunjungi panti asuhan yatim dan dhuafa. Keluarganya juga diajak serta. Ia memberikan santunan rutin ke sejumlah panti itu.
Pada tanggal 3 Juli 2001 itu, jasad Lopa dibawa kembali ke tanah air. Pejuang hukum ini dimakamkan di Pemakaman Pahlawan Kalibata, Jakarta.
**
Jangan pernah bercita-cita menjadi pejuang jika tidak ingin punya musuh. Jangan pernah ingin menjadi pejabat yang amanah jika tidak ingin punya konflik.
Pejabat yang amanah itu dicintai Allah dan rakyatnya. Tapi juga akan dilemahkan musuh-musuhnya.
Jangan pernah bermimpi untuk bisa mengambil jalan tengah: menjadi pejabat yang amanah dan didukung kaum koruptor. [Mh]




